Y.A Sariputta
Y.A.SARIPUTTA
Bhikkhu Sariputta lahir di Desa Upatissa, ibunya bernama Sari, seorang wanita dari kasta brahmana. Terlahir sebagai putra dari keluarga terkaya di desanya, Sariputta diberi nama Upatissa. Pada hari yang sama dengan hari kelahiran Upatissa, lahir pula seorang bayi dari keluarga Moggalli di Desa Kolita. Kelak bayi ini akan menjadi Bhikkhu Maha Moggallana. Persahabatan di antara dua keluarga ini telah terjalin selama tujuh generasi. Dan kini persahabatan itu akan menjadi sebuah persaudaraan suci. Kedua anak itu pun bertemu, berteman, dan bertumbuh bersama. Upatissa tumbuh sebagai anak yang pemberani dan berjiwa pemimpin.
Tibalah waktu untuk perayaan tahunan “Festival Puncak Bukit”. Kedua sahabat itu pun mulai menikmati setiap pertunjukan. Kadang mereka tertawa gembira, ada kalanya mereka begitu takjub. Pada hari ketiga, tak ada lagi tawa di wajah mereka, kini mereka sadar bahwa semua kesenangan itu adalah semu, semua ini pun akan berlalu. Mereka bertekad untuk mencari jalan menuju pembebasan. Satu-satunya cara adalah meninggalkan rumah dan menjadi pertapa.
Beberapa tahun menjadi murid Sanjaya, mereka menyadari bahwa ajaran guru tersebut tidak akan mampu membimbing mereka menuju pembebasan. Maka mereka kembali berkelana mengelilingi Jambudipa. Kali ini mereka memutuskan untuk berpencar, dan membuat kesepakatan bahwa bila salah satu dari mereka telah menemukan guru, ia harus memberitahu yang lainnya. Dalam pengembaraan inilah Upatissa bertemu dengan Bhikkhu Assaji, dan mencapai kesucian pertama setelah mendengarkan sebuah bait yang diucapkan oleh Bhikkhu Assaji. Upatissa segera mencari Kolita untuk memberitahu kabar baik ini.
Upatissa dan Kolita pun ditahbiskan menjadi bhikkhu. Oleh Buddha, Upatissa diberi nama Sariputta, yang berarti “Putra Sari” . Bhikkhu Sariputta mencapai kesucian Arahatta setengah bulan kemudian. Dalam pertemuan 1.250 Arahanta yang terjadi pada bulan Magha, Buddha menyatakan Bhikkhu Sariputta dan Bhikkhu Maha Moggallana sebagai sepasang Siswa Utama Buddha, sebagaimana yang telah mereka tekadkan pada banyak kehidupan lampau.
Berkat kecerdasan yang dimilikinya. Buddha memberinya gelar Panglima Dhamma. Bhikkhu Sariputta adalah sahabat yang baik bagi siapa saja. Ia tak segan menegur dan memberi nasihat kepada siapa saja. Sebagai Panglima Dhamma , ia sangat penyabar, rendah hati, dan mau menerima masukan dari siapa pun. Mengunjungi dan merawat bhikkhu yang sakit adalah kebiasaannya. Bhikkhu Sariputta sangat piawai dalam membimbing orang lain mencapai Bodhi, Pencerahan, seperti yang ia lakukan saat merawat Bhikkhu Samitigutta yang terserang lepra. Berkat nasihatnya, Bhikkhu Samitigutta berhasil mencapai kesucian Arahatta.
Bhikkhu Sariputta menyadari bahwa telah dekat waktu baginya untuk mangkat. Ia merasa masih berhutang pada ibunya, Sari. Walaupun Ibu Sari adalah ibu dari 7 Arahanta, ia sama sekali belum memiliki keyakinan pada Tiratana. Maka Bhikkhu Sariputta memutuskan untuk Parinibbana di kampung halamannya, di kamar tempat ia dilahirkan. Sesampainya di sana, Bhikkhu Sariputta terserang sakit perut yang sangat parah. Saat terbaring lemah, empat Dewa Maharaja, Sakka Raja Dewa, dan Mahabrahma bergantian datang untuk memberi hormat. Menyaksikan peristiwa ini, Ibu Sari baru mengetahui betapa mulia anaknya dan timbullah sukacita dalam dirinya. Pada saat inilah, Bhikkhu Sariputta membabarkan Dhamma dan berhasil meyakinkan ibunya untuk berlindung pada Tiratana. Akhirnya Ibu Sari mencapai kesucian Sotapatti. Tak lama kemudian, Bhikkhu Sariputta wafat.
Karena kebijaksanaannya, pada masa hidupnya, Buddha memberi Bhikkhu Sariputta gelar “Siswa Utama” dan “Bhikkhu Yang Unggul Dalam Kebijaksanaan Agung”.
Omithofo...
Bhikkhu Sariputta lahir di Desa Upatissa, ibunya bernama Sari, seorang wanita dari kasta brahmana. Terlahir sebagai putra dari keluarga terkaya di desanya, Sariputta diberi nama Upatissa. Pada hari yang sama dengan hari kelahiran Upatissa, lahir pula seorang bayi dari keluarga Moggalli di Desa Kolita. Kelak bayi ini akan menjadi Bhikkhu Maha Moggallana. Persahabatan di antara dua keluarga ini telah terjalin selama tujuh generasi. Dan kini persahabatan itu akan menjadi sebuah persaudaraan suci. Kedua anak itu pun bertemu, berteman, dan bertumbuh bersama. Upatissa tumbuh sebagai anak yang pemberani dan berjiwa pemimpin.
Tibalah waktu untuk perayaan tahunan “Festival Puncak Bukit”. Kedua sahabat itu pun mulai menikmati setiap pertunjukan. Kadang mereka tertawa gembira, ada kalanya mereka begitu takjub. Pada hari ketiga, tak ada lagi tawa di wajah mereka, kini mereka sadar bahwa semua kesenangan itu adalah semu, semua ini pun akan berlalu. Mereka bertekad untuk mencari jalan menuju pembebasan. Satu-satunya cara adalah meninggalkan rumah dan menjadi pertapa.
Beberapa tahun menjadi murid Sanjaya, mereka menyadari bahwa ajaran guru tersebut tidak akan mampu membimbing mereka menuju pembebasan. Maka mereka kembali berkelana mengelilingi Jambudipa. Kali ini mereka memutuskan untuk berpencar, dan membuat kesepakatan bahwa bila salah satu dari mereka telah menemukan guru, ia harus memberitahu yang lainnya. Dalam pengembaraan inilah Upatissa bertemu dengan Bhikkhu Assaji, dan mencapai kesucian pertama setelah mendengarkan sebuah bait yang diucapkan oleh Bhikkhu Assaji. Upatissa segera mencari Kolita untuk memberitahu kabar baik ini.
Upatissa dan Kolita pun ditahbiskan menjadi bhikkhu. Oleh Buddha, Upatissa diberi nama Sariputta, yang berarti “Putra Sari” . Bhikkhu Sariputta mencapai kesucian Arahatta setengah bulan kemudian. Dalam pertemuan 1.250 Arahanta yang terjadi pada bulan Magha, Buddha menyatakan Bhikkhu Sariputta dan Bhikkhu Maha Moggallana sebagai sepasang Siswa Utama Buddha, sebagaimana yang telah mereka tekadkan pada banyak kehidupan lampau.
Berkat kecerdasan yang dimilikinya. Buddha memberinya gelar Panglima Dhamma. Bhikkhu Sariputta adalah sahabat yang baik bagi siapa saja. Ia tak segan menegur dan memberi nasihat kepada siapa saja. Sebagai Panglima Dhamma , ia sangat penyabar, rendah hati, dan mau menerima masukan dari siapa pun. Mengunjungi dan merawat bhikkhu yang sakit adalah kebiasaannya. Bhikkhu Sariputta sangat piawai dalam membimbing orang lain mencapai Bodhi, Pencerahan, seperti yang ia lakukan saat merawat Bhikkhu Samitigutta yang terserang lepra. Berkat nasihatnya, Bhikkhu Samitigutta berhasil mencapai kesucian Arahatta.
Bhikkhu Sariputta menyadari bahwa telah dekat waktu baginya untuk mangkat. Ia merasa masih berhutang pada ibunya, Sari. Walaupun Ibu Sari adalah ibu dari 7 Arahanta, ia sama sekali belum memiliki keyakinan pada Tiratana. Maka Bhikkhu Sariputta memutuskan untuk Parinibbana di kampung halamannya, di kamar tempat ia dilahirkan. Sesampainya di sana, Bhikkhu Sariputta terserang sakit perut yang sangat parah. Saat terbaring lemah, empat Dewa Maharaja, Sakka Raja Dewa, dan Mahabrahma bergantian datang untuk memberi hormat. Menyaksikan peristiwa ini, Ibu Sari baru mengetahui betapa mulia anaknya dan timbullah sukacita dalam dirinya. Pada saat inilah, Bhikkhu Sariputta membabarkan Dhamma dan berhasil meyakinkan ibunya untuk berlindung pada Tiratana. Akhirnya Ibu Sari mencapai kesucian Sotapatti. Tak lama kemudian, Bhikkhu Sariputta wafat.
Karena kebijaksanaannya, pada masa hidupnya, Buddha memberi Bhikkhu Sariputta gelar “Siswa Utama” dan “Bhikkhu Yang Unggul Dalam Kebijaksanaan Agung”.
Omithofo...

Komentar
Posting Komentar