Tanah Dewa Gunung Oleh Master Lu Sen Yen

Tanah Dewa Gunung

Saya pernah mengatakan:
Yang paling kaya di alam surga adalah Empat Raja Langit.
Yang paling kaya di alam air adalah Raja Naga.
Yang paling kaya di atas bumi adalah Dewa Gunung.

Ini mengacu pada kekayaan dunia materi, dan kekayaan sejati dunia tak berwujud, yang paling kaya secara wujud adalah “kebenaran” atau “Tathata” atau “Nirvana” atau “Kebijaksanaan Tathagata” (Prajna).

Selama konsultasi, ada sebuah kejadian aneh, sebagai berikut:

Ada seseorang, bermarga Jiang, datang menanyakan nasib dan peruntungan.

Setelah saya meramal, saya menjawab, “Anda akan kaya!”

“Apa?”

“Kaya.”

Sekawanan orang yang datang bersamanya, tertawa terbahak-bahak, ternyata Bapak Jiang adalah seorang tukang penebang kayu muda, tidak pernah bersekolah, keluarga tidak berada, hanya mengandalkan tenaga menebang kayu di hutan, gaji setiap bulan tidak besar.

Saya meramal ia bisa kaya, sehingga semua orang tertawa terbahak-bahak.

Jiang bertanya pada saya, “Kapan kaya?”

Saya meramal dan menjawab, “Lima tahun.”

Dengan sangat yakin, saya katakan pada Jiang, “Lima tahun pasti kaya, karena saya melihat sebuah pohon besar, di bawah pohon besar ada seorang Dewa Bumi, Dewa Bumi ini mengikutinya, Dewa Bumi menjulurkan lima jari, bahkan mengangguk pada saya.”

Jiang terlihat tegang.

Orang lain terbahak-bahak lagi.

Kemudian, Jiang berkata pada saya lagi bahwa ia benar-benar tidak bersekolah, hanya seorang tukang penebang kayu, gaji tidak besar, hanya cukup memenuhi kebutuhan sehari-hari, kadang-kadang bahkan berutang, sulit sekali dibayangkan bisa kaya.

Namun, di bawah pohon ada sesosok Dewa Bumi mengikuti, agak menarik. Ia mengatakan, desa di bawah gunung ingin menebang beberapa pohon besar, memintanya menebang, ia berpengalaman.

Malamnya, ia bermimpi:

Bermimpi seorang pak tua, mengenakan kostum seperti Dewa Bumi, menunjuk salah satu pohon besar, mengatakan pohon ini jangan ditebang, harus dibungkus sehelai kain merah, di bawah pohon dibangun sebuah kuil dewa bumi kecil.

Pak tua berkata, “Saya pasti melindungi Anda!”

Setelah bangun, Jiang pergi menebang pohon, ditebang hingga tinggal pohon besar di dalam mimpi, Jiang menunjuk pohon besar dan berkata, pohon ini ada dewa, tidak boleh ditebang, harus dibungkus kain merah, di bawah pohon besar harus dibangun kuil dewa bumi kecil.
Warga desa mendengar ucapan Jiang, agak ragu, mengundang kepala desa “pua pue”, alhasil keluar 3 pue positif.

Sehingga, sebatang pohon besar tidak ditebang, dibungkus kain merah, lalu dibangun sebuah kuil dewa bumi kecil di bawah pohon besar.

Jiang bertanya pada saya, “Apakah ini yang dimaksud Dewa Bumi di bawah pohon besar?”

Begitu saya mendengarnya, saya hanya tertawa.

Jiang bertanya lagi, “Apakah benar lima tahun?”

Saya menjawab, “Benar-benar lima tahun.”
Karena saya benar-benar melihat dewa bumi di bawah pohon besar, menjulurkan lima jari, mengangguk pada saya.

Kira-kira dua tahun kemudian, Jiang berkonsultasi lagi, “Bisa kaya?”

“Bisa.” Saya dengan tegas memberitahunya.
Jiang setengah percaya, karena tukang penebang kayu dibatasi oleh departemen kehutanan, akan diusir, Jiang akan kehilangan pekerjaan, kehidupan menjadi lebih sulit lagi, ia tidak bisa berbuat apa-apa, belum kaya, hari makin lama makin sulit dilewati.

Saya menjulurkan jari meramal sebentar.
Saya berkata, “Kekayaan Anda yang akan datang, tetap pada kayu.”

Jiang berkata, “Mustahil, saya tidak percaya, saya sudah diusir, sekarang bahkan pekerjaan tukang penebang kayu pun sudah tidak bisa saya jalankan, hanya mengandalkan kerja serabutan.”
Jiang pergi dengan lesu.

Saya tidak menyalahkan kemarahan Jiang, karena ia benar-benar mengalami halangan di mana-mana, namun, saya tetap melihat di belakang badannya, ada sesosok Dewa Bumi mengikutinya, ia sedih, namun, saya sangat yakin.

Kira-kira 3 tahun kemudian.

Saya makan di sebuah restoran, baru saja duduk.

Seorang pemuda gagah berjas, pergelangan tangan melingkar jam tangan rolex bertabur permata berjalan menghampiri saya dan membungkuk pada saya.

“Anda siapa?” saya tidak kenal siapa dia.

“Mahaguru Lu, saya bermarga Jiang.”
       “Anda...Anda...adalah...Jiang.” Saya tidak berani percaya, karena Jiang yang dulu, rambut acak-acakan, wajah brewokan, mana seperti pemuda di hadapan saya ini, rapi dan tampan.

Jiang berkata, “Mari kita makan di meja sebelah, saya traktir, silahkan Mahaguru Lu.”
Jiang memperkenalkan pada saya, ini adalah direktur pabrik, ini adalah bagian umum, ini adalah bagian pembelian, ini adalah sekretaris, ini adalah akuntan.

Jiang berkata, “Saya adalah komisaris.”

Saya kebingungan, apa perusahaan yang dijalankan Jiang?

Jiang menceritakan pada saya, ia bertemu seorang guru pemahat pratima, mengajarinya bagaimana memahat pratima, tak disangka, Jiang begitu belajar langsung mahir, bahkan hasilnya sangat luar biasa, Jiang dalam waktu yang sangat singkat, menguasai seni kerajinan tangan yang sangat baik.

Pratima buatan Jiang terlihat agung, indah, hidup, dan berwibawa, beda sama sekali dengan pratima di luaran.

Pratima Jiang banyak dipesan orang, pesanan banyak sekali, dalam setahun, vihara di seluruh negara memintanya membuat pratima, tidak terhitung. Jiang memperluas rencana, membangun pabrik pembuatan pratima dan peralatan sembahyang.

Pabrik lebih dulu membuatkan model pratima (bahan mentah) dengan mesin. Kemudian tukang pembuat pratima memahatnya menjadi bentuk pratima (bahan menengah). Terakhir, Jiang dan tukang penghalus menggunakan teknik penghalus menjadikan pratima menjadi barang antik.

Keberhasilan usaha Jiang makin meningkat dari hari ke hari, tidak hanya aspek pekerjaan di bidang perkayuan, bahkan pratima fiber bahan tanah yang berukuran besar juga dibuat berdasarkan pesanan. Jiang dari seorang tukang penebang kayu, dalam waktu yang sangat singkat 5 tahun saja, mendirikan satu demi satu pabtrik pembuatan pratima, dan memiliki karyawan lebih dari 100 orang.

Jiang memiliki satu unit mobil impor Chrysler.
Jiang memiliki rumah mewah lima tingkat.
Jiang benar-benar menjadi kaya, toko-tokonya, dari pratima Buddha Bodhisattva, Arahat, para dewa hingga pejabat akhirat, Kakek Bumi, Nenek Bumi, pratima dan peralatan sembahyang, lengkap semua, dijuluki sebagai toserba pratima. Jiang bahkan membuat pratima berukuran besar di mancanegara, Jiang berencana membuat –
Pratima Tantra. (Tantra Tibet)
Pratima Jepang. (Tantra Jepang)
Pratima Thailand.
Pratima Indochina.
Pratima Dinasti Tang.
Pratima Dunhuang. (gua)
Jiang bahkan pergi ke India, Afganistan, Pakistan, mempelajari bentuk pratima jalan sutera.

Saya terpaku begitu mendengarnya.

Jiang suatu kali mengunjungi saya secara langsung, “Apakah Dewa Bumi di belakang saya masih ada?”

Saya menjawab, “Dewa Bumi masih ada, hanya saja agak kecil, di belakang berdiri Jambhala Kuning, Jambhala Merah (Ganesha), Jambhala Putih, Jambhala Hijau, Jambhala Hitam, Anda kaya 30 tahun, semua rencana bisnis bisa berjalan.”

“Mohon Mahaguru Lu menurunkan pada saya mantra Jambhala.”

Saya mentransmisikan pada Jiang, juga menyarankannya menjapa nama Buddha, ia juga terima.

Jiang ini juga tidak melupakan asal muasalnya, kembali ke desa di bawah gunung, dan membangun ulang kuil dewa bumi kecil, dewa bumi kecil menjadi Raja Berkah.

Jiang juga menggunakan sedan Chrysler-nya, mengantarkan saya meninjau fengshui, tahun itu orang yang memiliki mobil tidak banyak, terutama mobil impor, lebih jarang lagi, saya naik mobil impor meninjau fengshui, juga sangat bergengsi.

Sepengetahuan saya, Jiang sendiri tidak memiliki “peruntungan dari pendahulu”, “peruntungan dari pendahulu” adalah leluhur tidak mengumpulkan pahala, sehingga tidak akan kaya; Jiang juga tidak memiliki “peruntungan dari diri sendiri”, “peruntungan dari diri sendiri” adalah sepanjang hidup miskin dan melarat, secara teori, mustahil kaya.

Hanya saja, Jiang menjalin “peruntungan dari dewa”, dengan kata lain menyisakan sebatang pohon besar, menjalin hubungan dengan sesosok Dewa Berkah dan Pahala, Dewa Berkah dan Pahala ini membantunya kaya selama 35 tahun, ini adalah “peruntungan dari dewa” yang tidak terbayangkan.

Jika Jiang dapat melakukan kebajikan, menjapa nama Buddha, menaati Sila, dan tidak berbuat kejahatan, jika ada kehidupan yang akan datang lagi, ia akan menikmati berkah yang lebih tidak terhingga lagi.


Tulisan ini dikutip dari karya tulis Grand Master Sheng-yen Lu ke 177_Stories about Seeing Deities and Ghosts 見神見鬼記



Omithofo...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ta Pei Cou dan Makna

Empat Golongan Nasib Manusia

Guang Ze Zun Wang