Sarila
Relik dalam bahasa Sanskerta disebut Sarira, yang juga berarti tulang roh dan tulang peninggalan.
Sarira adalah barang mulia yang sangat berharga, ada sarira seluruh tubuh, sarira bagian tubuh, sarira sumbu pelita, sarira Buddha, dan sebagainya, bentuk sarira berbeda-beda, ada yang bulat, oval, berbentuk padma, selain itu warnanya juga beragam, putih, hitam, hijau, merah dan sarira warna-warni, rata- rata pernah tampak.
‘Suvarnaprabhasa Mahayana’(benda peninggalan tubuh) mengungkapkan: “Barangsiapa yang memiliki sarira, berarti memiliki pahala Sadparamita yang tiada tara, dihasilkan dari ketekunan menjalankan sadhana.” Dikatakan pula: “Sarira adalah hasil sadhana dalam menjalankan sila, menjalankan samadhi dan melatih prajna, sungguh sulit didapatkan, dan merupakan ladang berkah yang paling unggul.
*
Sarira Beterbangan di Angkasa
Darimana datangnya sarira?
※
Sarira Jatuh dari Langit - Kisah Kang Senghui
Biografi Arya Sangha mengungkapkan bahwa pada zaman Dinasti Tiga Kerajaan ada seorang Sangha yang bernama Kang Senghui, Beliau tiba di Dongwu. Beliau menyembah Rupang Buddha serta membabarkan Buddhadharma dengan perantara gubuk lalang yang dibangun di Nanjing. Mengingat rakyat setempat belum pernah melihat Sangha, maka mereka curiga pada ajaran Beliau, dan pejabat setempat juga kuatir Beliau akan menggalakkan rakyat untuk membuat onar, lalu hal ini dilaporkan kepada penguasa Sun Quan.
Setelah mengetahui masalah ini, Sun Quan segera memanggil Kang Senghui untuk menghadap, dan menanyakan keampuhan Dharma yang disebarkannya. Kang Senghui menjawab, “Meski Buddha sudah lama berparinirvana, namun sarira yang diwariskanNya sungguh takjub dan tiada tara! Raja Asoka dari India juga telah membangun 84.000 stupa untuk menyebarkan Buddhadharma.” Sun Quan menganggap ia berbohong, lalu berkata kepada Kang Senghui, “Jika Anda mendapatkan sarira, maka saya akan mendirikan stupa Anda, kalau tidak,saya akan menghakimi Anda,
Kang Senghui meminta waktu 7 hari kepada Sun Quan. Sekembalinya ke gubuk lalang, ia bersama siswa-siswanya menyiapkan sebuah ruangan bersih, lalu meletakkan sebuah botol tembaga di atas meja panjang, membakar dupa dan bersembah. Tujuh hari kemudian, botol tetap kosong, Kang Senghui meminta Sun Quan untuk memberi 7 hari kelonggaran. Tujuh hari telah berlalu, namun tetap tidak tampak sarira. Sun Quan merasa sangat kecewa dan berkata, “Jika Anda memang berniat untuk berbohong, maka saya akan menghukum Anda!”, Kang Senghui kembali memohon pada Sun Quan untuk memberi kelonggaran 7 hari lagi. Sun Quan menyanggupinya.
Dalam sekejap, 7 hari yang ketiga kalinya kelihatannya akan segera berlalu, hingga malam hari, masih belum juga tampak bayangan sarira, Kang Senghui tetap bersembah dengan tulus di depan dupa. Tibalah hari kedelapan, pada pukul 4.00 dini hari, tiba-tiba terdengar suara dalam botol tembaga, Kang Senghui segera melihat isi botol tersebut, akhirnya muncul juga sebutir sarira yang jatuh dari langit.
Menjelang pagi, Kang Senghui membawa botol tembaga yang berisikan sarira kepada Sun Quan, Sun Quan mengumpulkan para pejabat untuk ikut mengamati sarira tersebut, dari mulut botol tampak pancaran lima cahaya kemilau sarira. Tatkala Sun Quan menuangkan sarira ke sebuah piring tembaga, tak disangka, sarira yang jatuh keluar malah memecahkan piring tembaga, Sun Quan merasa takjub sembari berkata, “lni sungguh sebuah pertanda baik yang sangat langka.”
Kang Senghui lanjut berkata, “Sarira ini tidak hanya memancarkan lima cahaya kemilau, meski dibakar dengan api dan dihantam dengan Vajradorje, sedikitpun tidak akan tergores.”
Mendengar hal ini, Sun Qaan segera memerintahkan orang untuk membawa palu besi, talenan, pengetok untuk mengujinya, ternyata sarira tersebut sedikitpun tidak tergores, malah palu besi, talenan dan pengetok melekuk karenanya. Lalu Sun Quan pun menyanjungnya, ia tidak hanya memperkenankan Kang Senghui untuk menyebarkan Buddhadharma di daerah setempat, ia juga memerintahkan untuk membangun stupa bagi Kang Senghui dan mendirikan Kuil Jianchu untuk mempersemayamkan sarira, malah mengubah nama setempat menjadi ‘Fotuoli’, sejak itu Buddhadharma mulai tersebar dari Jiangdong.
※
Sepengetahuan saya, Sarira Buddha, ada yang berasal dari angkasa dan juga akan menghilang di angkasa. Ini adalah simbol yukta, hanya dengan melenyapkan segala halangan, memanunggalkan citta kita dengan Buddha, maka dengan sendirinya akan mendapatkan yukta, ini adalah hal yang lazim, sedikitpun tidak dipaksakan.
~Grand Master Lu~
Omithofo..

Komentar
Posting Komentar