Piket Dua Dewa Rejeki Oleh Master Lusenyen

Piket Dua Dewa Rezeki,

Pernah suatu kali saya berkunjung ke sebuah restoran, ketika memasuki pintu, saya menjadi sangat kaget, ternyata di balik pintu berdiri dua sosok Dewa Bhumi.

Saya tersenyum dan menyapa kedua Dewa Bhumi, “Hai! Apa Kabar!”

Sekarang ganti  Kedua Dewa Bhumi yang kaget, rupanya di dunia ini masih ada satu orang yang bisa melihat kehadiran mereka.

Kedua Dewa Bhumi kemudian terlihat wajar kembali dan berkata, “Silahkan duduk, tuan.”
Ketika di dalam restoran saya mendengar kedua dewa rezeki saling berbisik,
 “Siapa itu?”
“Guru Lu, kamu tak kenal?”
“Orang suci dari mana?”
“Penghidupan lalu sebagai Padmakumara, penghidupan kini meyelamatkan makhluk luas.”
“Siapa pula Padmakumara itu?”
“Penjelmaan Amitabha Buddha.”
“Wah! Asal usulnya tidak kecil. Tidak heran dia bisa melihat kita.”

Mendengar sampai sini, saya sudah tidak ingin mendengar lebih lanjut, lantas saya tutup pendengaran ‘Shun Feng Er’ saya.

Saya memberitahu siswa yang duduk semeja dengan saya, “Restoran ini bakal menjadi sangat jaya!”

Di kemudian hari, ternyata seperti prediksi saya, dari satu restoran menjadi dua, dua menjadi tiga, empat, lima restoran..., orang yang bersantap di restoran luar biasa banyaknya, pemasukan berlimpah, bisnis sukses dan lancar, uang berbondong-bondong menghampiri.

Kenapa saya bisa memprediksi restoran bakal sangat jaya?

Semua itu dikarenakan restoran ini dipiket oleh dua Dewa Bhumi, bagaimana tidak menjadi jaya!

Bererapa tahun setelahnya, saya kembali mengunjungi restoran ini. Namun saya tidak menjumpai lagi kedua Dewa Bhumi tersebut, melainkan beberapa sosok makhluk halus yang seram yang mondar-mandir dalam restoran.
Saya mencoba tarik sebuah nafas dan yang saya rasakan adalah ‘hawa negatif’ belaka. Saya sungguh menjadi kaget, apa yang telah terjadi? Kedua Dewa Bhumi sudah menghilang dan digantikan oleh makhluk halus yang seram.
Kembali saya memberitahu siswa yang duduk semeja dengan saya, “Habislah sudah! Restoran ini bakal bangkrut!”

Makanan yang disajikan restoran bermasalah, ratusan orang keracunan dan dirawat di rumah sakit, nama restoran tersebut rusak dalam sekejap.

Mulanya restoran sangat ramai, namun kini menjadi sepi pengunjung.

Ketika restoran sedang melakukan renovasi gedung bagian luar, perancah bangunan tiba-tiba ambruk mengakibatkan beberapa orang tewas serta luka.

Sedangkan dua restoran lainnya (dari pemilik yang sama) tiba-tiba mengalami musibah kebakaran yang sangat hebat, dan beberapa orang tewas terbakar. Akhirnya restoran ditutup oleh pemerintah.

Pemilik restoran yang berjudi ke kasino mengalami kekalahan besar!

Pemilik restoran sudah melanggar pantangan moral (berselingkuh dengan anak isteri orang).
Pemilik restoran ditipu dalam permainan saham.
Akhirnya pemegang sahan restoran menjadi tidak sejalan, dan masalah pengadilan bertubi-tubi.
Dikarenakan kesialan yang beruntun, tidak sampai beberapa tahun, kejayaan yang sudah dipupuk banyak tahun akhirnya menjadi lenyap tak berbekas.

Pada suatu hari, saya bertemu kembali dengan kedua Dewa Bhumi itu, dan saya menyinggung masalah restoran tersebut. Kedua Dewa Bhumi bercerita, di kala restoran sedang jaya-jayanya, pemilik restoran, sang isteri kehilangan moral berselingkuh dengan supir perusahaan, sedangkan majikan laki-laki kehilangan moral mempunyai piaraan di luar.

Restoran juga kehilangan moral, walaupun tahu kalau makanan sudah kadaluarsa tetapi tetap disajikan kepada tamu. Pemilik restoran juga bergabung dalam usaha debt collector, berkawan dengan orang jahat dan siang malam berjudi. Pemilik restoran juga merampas harta pemilik saham lainnya.

Dikarenakan tidak setuju dengan tingkah laku mereka, maka kedua Dewa Bhumi pun meninggalkannya! Oleh sebab itu rezekinya pun amblas!

Tulisan ini dikutip dari karya tulis Sheng-yen Lu ke 226, “Mengetuk Pintu Hatimu.” 敲開你的心扉



Omithofo..

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ta Pei Cou dan Makna

Empat Golongan Nasib Manusia

Guang Ze Zun Wang