Penjelasan Makna Kata Ta Pei Cou 1

PENJELASAN DARI SETIAP KATA  'TA PEI COU'

1. NAMO RATNA-TRAYAYA
[ na mo he la ta na tuo la ye ye ]
Penampilan Bodhisattva Avalokitesvara atau KUAN SHE YIN PHU SA Memegang Tasbih.

Terjemahan :" NAMO" [na mo] artinya dengan penuh hormat bersujud dan berlindung serta memasrahkan jiwa dan raga. "NAMO" juga berarti terpujilah. "RATNA" [he la ta na] artinya mestika/pusaka. "TRAYAYA" [tuo la ye] artinya tri / tiga. "YA" [ye] artinya menghormat. Keseluruhan dari kalimat ini berarti : bersujud menghormat serta memasrahkan jiwa dan raga kepada Sang Tiga Mestika atau Tri Ratna yaitu Buddha, Dharma dan Sangha, yang tanpa batas yang terdapat di sepuluh penjuru alam semesta.

Penjelasannya : kalimat ini adalah harapan Bodhisattva Avalokitesvara agar para umat dapat berlindung pada jalan Dharma, dan dapat mencapai pencerahan bathin. Dharani ini dapat membimbing para umat untuk mencapai penerangan sempurna . Kata 'berlindung' artinya berlindung kepada Buddha, Dharma dan Sangha sebagai Tiga Mestika atau Tri Ratna.

Berlindung pada Buddha harus tanpa keraguan, tanpa kekhawatiran, serta memiliki bathin yang terkonsentrasi, segalanya bertumpu pada ajaran Buddha yang teragung untuk dengan segera mengakhiri semua perbuatan yang dapat menimbulkan bibit karma untuk tumimbal lahir dan bertekad untuk lahir di tanah suci Buddha Amitabha atau Sukhavati, supaya dapat dengan cepat mencapai tingkat kesucian Buddha.

Berlindung pada Dharma artinya berpedoman pada kitab suci Buddha Dharma sebagai prinsip atau pegangan hidup, serta tidak menyalahkan Tuhan, tidak menyalahkan orang lain. Dengan Dharma sang umat dapat memahami bahwa segala sesuatu timbul disebabkan oleh akibat karma dari perbuatannya sendiri dan harus menerima buah karma dari hukum sebab akibat.

Berlindung pada Sangha artinya selalu menjaga kemurnian pikiran dan ketenangan hati atau bathin, selalu menjaga kesadaran pikiran agar tetap berada di jalan Dharma dan dalam kondisi yang tenang, tak tergoyahkan dan berusaha menghindari 5 racun (kekotoran bathin) yaitu : kemarahan, keserakahan, keterikatan atau kemelekatan terhadap wujud jasmani atau benda-benda duniawi, kesombongan dan nafsu birahi.

Karena semua wujud (benda) di dunia adalah berupa ilusi, ketika ajal tiba, jiwa akan meninggalkan jasmani dan pada waktu itu, tidak ada satupun wujud benda ataupun orang yang disayangi yang dapat dibawa pergi selain hanya membawa karma dari perbuatan sendiri sewaktu masih hidup di dunia ini, maka itu, janganlah tertipu oleh sesuatu yang bersifat sementara. Pada saat jiwa atau roh meninggalkan jasmani, waktu itu akan disadari bahwa dirinya telah menyia- nyiakan satu kesempatan kehidupan sebagai manusia yang mana sulit diperoleh.

Sesungguhnya tujuan dari kelahiran manusia di dunia ini adalah untuk melatih diri agar dapat melepaskan diri dari tumimbal lahir dan mencapai penerangan sempurna (pemurnian bathin untuk kembali ke alam Buddha), dan alam manusia ini adalah tempat berlatih yang baik untuk mencapai tingkat kesucian, maka itu, kelahiran serta kehidupan di alam manusia ini bukan digunakan untuk mencari atau menikmati kesenangan duniawi dan melupakan tugas yang penting.

Apabila para umat bersedia melatih diri dengan tulus, pasti akan mencapai kondisi bathiniah dan lahiriah yang luar biasa; mendapat kedamaian yang suci serta memperoleh buah karma dari Buddha Dharma yang sempurna.

Sekali lagi Sang Bodhisattva mengingatkan para umat bahwa tujuan dari kelahiran manusia di dunia ini adalah untuk mencari hakekat Buddha atau benih Kebuddhaan yang telah ada di dalam hati nurani manusia dan berusaha untuk mengembangkannya dan apabila pada kehidupan ini sang umat tidak berhasil menjalankan Dharma untuk mengembangkan benih Kebuddhaannya untuk mencapai tingkat kesucian,maka sang umat diberi kesempatan lagi untuk dilahirkan kembali sesuai dengan KARMA-nya.




Omithofo...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ta Pei Cou dan Makna

Empat Golongan Nasib Manusia

Guang Ze Zun Wang