Penjelasan Makna Dari Setiap Kata Ta Pei Cou 5
PENJELASAN DARI SETIAP KATA 'TA PEI COU'
5. MAHASATTVAYA
[mo he sa tuo pho ye]
Penampilan Bodhisattva AVALOKITESVARA atau KUAN SHE YIN PHU SA sedang Melafalkan Dharani.
Terjemahan : "MAHA" [mo he] artinya besar; banyak; menang. "SATTVA" [sa tuo pho] artinya pemberani; makhluk hidup. "YA" [ ye] artinya menghormat. Maksudnya adalah : bersujud menghormat kepada yang maha pemberani yang telah mendapat pembebasan .
Penjelasan : kalimat ini menjelaskan bahwa Bodhisattva menghendaki semua umat manusia janganlah mengira tubuh jasmani ini adalah tubuh yang kekal.
Dharani ini menasehati manusia untuk kembali pada kesucian semula. "MAHA" [mo he] adalah menunjukkan bahwa jalan Dharma tiada batas dan tidak dapat dibayangkan keagunganNya. Orang yang melatih diri harus memahami bahwa semua fenomena atau wujud di dunia fana ini (mahasahasra-lokadhatu) walaupun memiliki bentuk atau wujud yang tidak kekal, yang mana terbentuk dari kondisi karma, namun wujud jasmani yang tidak kekal ini apabila berbuat jahat juga dapat menimbulkan benih karma.
Apabila umat manusia tidak dapat memahami secara tuntas tentang hukum sebab akibat dari timbulnya sesuatu wujud yang tidak kekal ini dan menganggap bahwa keinginan untuk menikmati benda atau wujud duniawi ini adalah sifat alamiah dari manusia, maka untuk selama-lamanya Sang umat tersebut tak akan memahami inti dari ajaran Dharma yang maha luas, malahan akan jatuh ke jalan yang sesat dan melakukan perbuatan yang melanggar SILA, sehingga harus bertanggung jawab atas perbuatan jahatnya, yaitu : harus tumimbal lahir di 3 alam sengsara, maka dari itu, orang yang melatih diri harus memahami secara menyeluruh manfaat dari menjalankan Dharma dan tetap menjaga dan berpegang teguh pada pikiran yang murni atau hati nurani yang suci yang telah ada di dalam hati sanubari setiap manusia sejak lahir.
Seumur hidup dari orang yang melatih diri seharusnya hanya berpegang teguh pada hati nuraninya yang suci dan hanya melakukan perbuatan yang mulia seperti turut menyebarkan ajaran Dharma kepada masyarakat umum atau mencetak kitab suci ajaran Sang Buddha untuk menasehati umat manusia agar jangan berbuat kejahatan dan mendorong atau mendukung umat manusia untuk berbuat kebaikan atau melakukan perbuatan amal yang baik sampai menjelang ajal. Dengan cara demikian, pada akhirnya sang umat barulah dapat menyadari manfaat dari melakukan perbuatan yang baik, dan dapat membebaskan diri dari penderitaan tumimbal lahir di 3 alam sengsara (alam neraka, alam setan kelaparan dan alam binatang).
Omithofo...
5. MAHASATTVAYA
[mo he sa tuo pho ye]
Penampilan Bodhisattva AVALOKITESVARA atau KUAN SHE YIN PHU SA sedang Melafalkan Dharani.
Terjemahan : "MAHA" [mo he] artinya besar; banyak; menang. "SATTVA" [sa tuo pho] artinya pemberani; makhluk hidup. "YA" [ ye] artinya menghormat. Maksudnya adalah : bersujud menghormat kepada yang maha pemberani yang telah mendapat pembebasan .
Penjelasan : kalimat ini menjelaskan bahwa Bodhisattva menghendaki semua umat manusia janganlah mengira tubuh jasmani ini adalah tubuh yang kekal.
Dharani ini menasehati manusia untuk kembali pada kesucian semula. "MAHA" [mo he] adalah menunjukkan bahwa jalan Dharma tiada batas dan tidak dapat dibayangkan keagunganNya. Orang yang melatih diri harus memahami bahwa semua fenomena atau wujud di dunia fana ini (mahasahasra-lokadhatu) walaupun memiliki bentuk atau wujud yang tidak kekal, yang mana terbentuk dari kondisi karma, namun wujud jasmani yang tidak kekal ini apabila berbuat jahat juga dapat menimbulkan benih karma.
Apabila umat manusia tidak dapat memahami secara tuntas tentang hukum sebab akibat dari timbulnya sesuatu wujud yang tidak kekal ini dan menganggap bahwa keinginan untuk menikmati benda atau wujud duniawi ini adalah sifat alamiah dari manusia, maka untuk selama-lamanya Sang umat tersebut tak akan memahami inti dari ajaran Dharma yang maha luas, malahan akan jatuh ke jalan yang sesat dan melakukan perbuatan yang melanggar SILA, sehingga harus bertanggung jawab atas perbuatan jahatnya, yaitu : harus tumimbal lahir di 3 alam sengsara, maka dari itu, orang yang melatih diri harus memahami secara menyeluruh manfaat dari menjalankan Dharma dan tetap menjaga dan berpegang teguh pada pikiran yang murni atau hati nurani yang suci yang telah ada di dalam hati sanubari setiap manusia sejak lahir.
Seumur hidup dari orang yang melatih diri seharusnya hanya berpegang teguh pada hati nuraninya yang suci dan hanya melakukan perbuatan yang mulia seperti turut menyebarkan ajaran Dharma kepada masyarakat umum atau mencetak kitab suci ajaran Sang Buddha untuk menasehati umat manusia agar jangan berbuat kejahatan dan mendorong atau mendukung umat manusia untuk berbuat kebaikan atau melakukan perbuatan amal yang baik sampai menjelang ajal. Dengan cara demikian, pada akhirnya sang umat barulah dapat menyadari manfaat dari melakukan perbuatan yang baik, dan dapat membebaskan diri dari penderitaan tumimbal lahir di 3 alam sengsara (alam neraka, alam setan kelaparan dan alam binatang).
Omithofo...

Komentar
Posting Komentar