Penjelasan Makna Dari Setiap Kata Ta Pei Cou 13
PENJELASAN DARI SETIAP KATA
' TA PEI COU '
13. HERI MAHAVADHASAME
[ si li mo he pho tuo sa mie ]
Penampilan Bodhisattva AVALOKITESVARA atau KUAN SHE YIN PHU SA Berwujud Raja Dewa Berkepala Kambing.
Terjemahan : "HERI" [ si li ] artinya hati nurani, hati nurani yang tanpa noda. "MAHAVADHASAME" [ mo he po tuo sa mie ] artinya hati yang cerah dan terang yang selalu memancarkan cahaya dan bathin yang kosong tidak terikat pada benda atau wujud duniawi.
Penjelasan : Dharani ini menjelaskan bahwa Bodhisattva telah mengamati bahwa para umat manusia sangat terikat pada : ketenaran nama, keuntungan, kekayaan dan kemewahan. Apabila terikat pada hal-hal yang demikian berarti mencari penderitaan untuk diri sendiri, maka itu, Bodhisattva mengucapkan Dharani ini.
Orang yang menjalankan Dharma atau melatih diri pertama-tama harus melatih pikirannya, yaitu sewaktu memandang segala sesuatu harus tanpa memiliki keinginan untuk mendapatkannya dan dengan sepenuh hati serta dengan sekuat tenaga mempelajari dan memahami Dharma, karena apabila sifat keduniawiannya tawar, maka bathinnya terhadap Dharma akan menjadi kental. Apabila hati tidak terikat pada benda duniawi atau bersifat kosong dan tanpa keinginan pribadi, pasti pemahaman terhadap Dharmanya kuat.
Apabila dapat mencapai kekosongan batiniah dan lahiriah, maka kehidupannya akan menjadi suci dan murni, tanpa penderitaan dan mendapat kebahagiaan, tetapi kekosongan bathiniah dan lahiriah mudah untuk dikatakan, tetapi sulit untuk dipraktekkan, karena semua makhluk hidup di dunia masing-masing memiliki karma. Bagaimana caranya untuk menghilangkan penderitaan duniawi yang begitu kental ?
Maka itu, harus dimulai dari belajar keras untuk mensucikan bathin terlebih dahulu, asalkan bathin kita bersih dari sifat-sifat : kemarahan, keserakahan, keterikatan atau kemelekatan terhadap benda atau wujud duniawi, kesombongan dan nafsu berahi, maka kebijaksanaan akan timbul, begitu kebijaksanaan timbul, maka setan atau mara tak dapat mengganggu dengan berbagai godaan benda-benda atau wujud duniawi. Apabila mara tidak dapat mengganggu dengan berbagai godaan benda-benda atau wujud duniawi. Apabila mara tidak dapat mengganggu dengan berbagai godaan benda-benda atau wujud duniawi, maka sang umat dapat melepaskan semua keterikatan terhadap hal duniawi dan bathinnya dapat memasuki alam semesta yang luas serta mencapai tingkat kesucian yang tanpa AKU atau tanpa ego dan tanpa rupa atau wujud serta dapat bersatu dengan kasih alam semesta. Inilah yang disebut pencapaian yang tertinggi.
Omithofo...
' TA PEI COU '
13. HERI MAHAVADHASAME
[ si li mo he pho tuo sa mie ]
Penampilan Bodhisattva AVALOKITESVARA atau KUAN SHE YIN PHU SA Berwujud Raja Dewa Berkepala Kambing.
Terjemahan : "HERI" [ si li ] artinya hati nurani, hati nurani yang tanpa noda. "MAHAVADHASAME" [ mo he po tuo sa mie ] artinya hati yang cerah dan terang yang selalu memancarkan cahaya dan bathin yang kosong tidak terikat pada benda atau wujud duniawi.
Penjelasan : Dharani ini menjelaskan bahwa Bodhisattva telah mengamati bahwa para umat manusia sangat terikat pada : ketenaran nama, keuntungan, kekayaan dan kemewahan. Apabila terikat pada hal-hal yang demikian berarti mencari penderitaan untuk diri sendiri, maka itu, Bodhisattva mengucapkan Dharani ini.
Orang yang menjalankan Dharma atau melatih diri pertama-tama harus melatih pikirannya, yaitu sewaktu memandang segala sesuatu harus tanpa memiliki keinginan untuk mendapatkannya dan dengan sepenuh hati serta dengan sekuat tenaga mempelajari dan memahami Dharma, karena apabila sifat keduniawiannya tawar, maka bathinnya terhadap Dharma akan menjadi kental. Apabila hati tidak terikat pada benda duniawi atau bersifat kosong dan tanpa keinginan pribadi, pasti pemahaman terhadap Dharmanya kuat.
Apabila dapat mencapai kekosongan batiniah dan lahiriah, maka kehidupannya akan menjadi suci dan murni, tanpa penderitaan dan mendapat kebahagiaan, tetapi kekosongan bathiniah dan lahiriah mudah untuk dikatakan, tetapi sulit untuk dipraktekkan, karena semua makhluk hidup di dunia masing-masing memiliki karma. Bagaimana caranya untuk menghilangkan penderitaan duniawi yang begitu kental ?
Maka itu, harus dimulai dari belajar keras untuk mensucikan bathin terlebih dahulu, asalkan bathin kita bersih dari sifat-sifat : kemarahan, keserakahan, keterikatan atau kemelekatan terhadap benda atau wujud duniawi, kesombongan dan nafsu berahi, maka kebijaksanaan akan timbul, begitu kebijaksanaan timbul, maka setan atau mara tak dapat mengganggu dengan berbagai godaan benda-benda atau wujud duniawi. Apabila mara tidak dapat mengganggu dengan berbagai godaan benda-benda atau wujud duniawi. Apabila mara tidak dapat mengganggu dengan berbagai godaan benda-benda atau wujud duniawi, maka sang umat dapat melepaskan semua keterikatan terhadap hal duniawi dan bathinnya dapat memasuki alam semesta yang luas serta mencapai tingkat kesucian yang tanpa AKU atau tanpa ego dan tanpa rupa atau wujud serta dapat bersatu dengan kasih alam semesta. Inilah yang disebut pencapaian yang tertinggi.
Omithofo...

Komentar
Posting Komentar