Penjelasan Makna Dalam Setiap Kata Ta Pei Cou 15
PENJELASAN DARI SETIAP KATA
' TA PEI COU '
15. AJEYAM
[ oh she yin ]
Penampilan Bodhisattva AVALOKITESVARA atau KUAN SHE YIN PHU SA Berwujud Raja Yaksa Terbang.
Terjemahan : " AJEYAM" [ oh she yin ] artinya Dharma yang tiada bandingannya dan merupakan ajaran yang tertinggi serta menunjukkan hati yang merendah, hati yang bersih tanpa kekacauan.
Dharani ini memberi dukungan atau penghargaan kepada yang berbuat baik dan bagi yang berbuat jahat seharusnya cepat bertobat sebelum tumimbal lahir di alam-alam rendah.
Penjelasan : Dharani ini menjelaskan bahwa Bodhisattva mengasihani para makhluk hidup yang tidak tahu cara untuk berbuat kebajikan, dan rela terjerumus ke dalam lautan derita.
Karena Bodhisattva khawatir para umat manusia bersifat lalai atau malas, maka Bodhisattva sering mengutus dewa terbang, raja yaksa dan lainnya, siang dan malam tanpa berhenti berpatroli di empat arah, kadang kala Bodhisattva menunjukkan kekuatan spiritualNya, memperingatkan umat manusia dan berharap agar semua makhluk hidup dengan secepatnya dapat bertobat atas segala kesalahan yang telah diperbuatnya dan harus melakukan kebajikan dengan menjalankan ajaran Dharma yaitu melatih diri berbuat sesuai dengan Dharma.
Setiap umat yang dengan tulus melakukan kebajikan, secara alami akan selalu dilindungi oleh para dewa dan para Buddha, dan orang yang sering melakukan kejahatan apabila dapat secepatnya melakukan pertobatan, maka Sang Bodhisattva tidak akan mempermasalahkan perbuatan yang sudah berlalu dan tetap memberi bimbingan. Seperti ada pepatah mengatakan : "Letakkanlah pisau jagal dan bertekadlah untuk menjadi Buddha." Ini adalah welas asih dari Bodhisattva. Namun yang dimaksud dengan meletakkan pisau jagal, bukan hanya meletakkan pisau yang digenggam tangan, yang lebih penting adalah meletakkan pisau yang berada di dalam hati yaitu menyingkirkan semua sifat egois, keserakahan, kebencian dan kebodohan (perbuatan yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain ).
Apabila hanya berpura-pura meletakkan pisau dari genggaman tangan saja dan tidak meletakkan pisau yang ada di dalam bathin, maka selamanya sang umat tidak akan memiliki jodoh dengan para Buddha, maka itu, umat manusia harus segera sadar, bertobat dan berbuat kebajikan, menitikberatkan hal yang bersifat bathiniah, yaitu setiap saat sewaktu ingin melakukan suatu perbuatan harus bersifat waspada jangan sampai melanggar 5 sila utama, karena setiap perbuatan membawa bibit karma yang haruslah dipertanggung-jawabkan, maka itu, janganlah mencari penderitaan untuk diri sendiri.
Karena kehidupan manusia sangat singkat, maka umat manusia harus dengan segera melatih diri, mengumpulkan pahala dari perbuatan baik, dan berniat untuk lahir di alam Buddha Amitabha atau Sukhavati, di samping itu selagi para umat masih berada di dunia ini, para umat juga harus berusaha seperti Bodhisattva, yaitu dengan sekuat tenaga menyelamatkan semua makhluk hidup yang berada di dunia untuk bebas dari tumimbal lahir.
Berbuat sesuatu harus dimulai dari dalam bathin dan tetap mempertahankannya dari awal sampai akhir agar tetap sama. Walaupun Sang Bodhisattva penuh welas asih, namun Bodhisattva tidak akan memberkati orang yang hanya berpura- pura baik.
Omithofo...
' TA PEI COU '
15. AJEYAM
[ oh she yin ]
Penampilan Bodhisattva AVALOKITESVARA atau KUAN SHE YIN PHU SA Berwujud Raja Yaksa Terbang.
Terjemahan : " AJEYAM" [ oh she yin ] artinya Dharma yang tiada bandingannya dan merupakan ajaran yang tertinggi serta menunjukkan hati yang merendah, hati yang bersih tanpa kekacauan.
Dharani ini memberi dukungan atau penghargaan kepada yang berbuat baik dan bagi yang berbuat jahat seharusnya cepat bertobat sebelum tumimbal lahir di alam-alam rendah.
Penjelasan : Dharani ini menjelaskan bahwa Bodhisattva mengasihani para makhluk hidup yang tidak tahu cara untuk berbuat kebajikan, dan rela terjerumus ke dalam lautan derita.
Karena Bodhisattva khawatir para umat manusia bersifat lalai atau malas, maka Bodhisattva sering mengutus dewa terbang, raja yaksa dan lainnya, siang dan malam tanpa berhenti berpatroli di empat arah, kadang kala Bodhisattva menunjukkan kekuatan spiritualNya, memperingatkan umat manusia dan berharap agar semua makhluk hidup dengan secepatnya dapat bertobat atas segala kesalahan yang telah diperbuatnya dan harus melakukan kebajikan dengan menjalankan ajaran Dharma yaitu melatih diri berbuat sesuai dengan Dharma.
Setiap umat yang dengan tulus melakukan kebajikan, secara alami akan selalu dilindungi oleh para dewa dan para Buddha, dan orang yang sering melakukan kejahatan apabila dapat secepatnya melakukan pertobatan, maka Sang Bodhisattva tidak akan mempermasalahkan perbuatan yang sudah berlalu dan tetap memberi bimbingan. Seperti ada pepatah mengatakan : "Letakkanlah pisau jagal dan bertekadlah untuk menjadi Buddha." Ini adalah welas asih dari Bodhisattva. Namun yang dimaksud dengan meletakkan pisau jagal, bukan hanya meletakkan pisau yang digenggam tangan, yang lebih penting adalah meletakkan pisau yang berada di dalam hati yaitu menyingkirkan semua sifat egois, keserakahan, kebencian dan kebodohan (perbuatan yang dapat merugikan diri sendiri dan orang lain ).
Apabila hanya berpura-pura meletakkan pisau dari genggaman tangan saja dan tidak meletakkan pisau yang ada di dalam bathin, maka selamanya sang umat tidak akan memiliki jodoh dengan para Buddha, maka itu, umat manusia harus segera sadar, bertobat dan berbuat kebajikan, menitikberatkan hal yang bersifat bathiniah, yaitu setiap saat sewaktu ingin melakukan suatu perbuatan harus bersifat waspada jangan sampai melanggar 5 sila utama, karena setiap perbuatan membawa bibit karma yang haruslah dipertanggung-jawabkan, maka itu, janganlah mencari penderitaan untuk diri sendiri.
Karena kehidupan manusia sangat singkat, maka umat manusia harus dengan segera melatih diri, mengumpulkan pahala dari perbuatan baik, dan berniat untuk lahir di alam Buddha Amitabha atau Sukhavati, di samping itu selagi para umat masih berada di dunia ini, para umat juga harus berusaha seperti Bodhisattva, yaitu dengan sekuat tenaga menyelamatkan semua makhluk hidup yang berada di dunia untuk bebas dari tumimbal lahir.
Berbuat sesuatu harus dimulai dari dalam bathin dan tetap mempertahankannya dari awal sampai akhir agar tetap sama. Walaupun Sang Bodhisattva penuh welas asih, namun Bodhisattva tidak akan memberkati orang yang hanya berpura- pura baik.
Omithofo...

Komentar
Posting Komentar