Lima Jenis Sappurisa Dana
Lima Jenis Sappurisa Dāna Lainnya
(1) Dāna yang dilakukan dengan keyakinan terhadap hukum sebab akibat (saddhā dāna);
(2) Dāna yang dilakukan setelah memerhatikan dengan saksama bahwa barang yang hendak dipersembahkan telah dipersiapkan dengan baik, segar, dan bersih (sakkacca dāna);
(3) Dāna yang dilakukan pada waktu yang tepat, dan pada kesempatan yang tepat (kāla dāna). (Jika saatnya makan, maka makanan yang dipersembahkan; jika saat Kathina, maka jubah yang dipersembahkan);
(4) Dāna yang dilakukan untuk memberikan bantuan kepada si penerima atau untuk menunjukkan kebaikan terhadap si penerima (anuggaha dāna); dan
(5) Dāna yang dilakukan tanpa mempengaruhi wibawa seseorang dan wibawa orang lain (anupaghāta dāna).
Seluruh lima jenis pemberian ini akan meningkatkan kekayaan dan kemakmuran. Sebagai tambahan, saddhā dāna, menghasilkan penampilan cantik atau tampan. Sebagai akibat dari sakkacca dāna, pengikut dan pelayan akan lebih patuh dan bekerja lebih keras. Hasil dari kāla dāna adalah manfaat yang timbul pada waktu yang tepat dan berlimpah. Sebagai akibat dari anuggaha dāna, seseorang akan dapat secara leluasa menikmati buah kebajikan dan dapat melakukan hal itu secara maksimum. Sebagai akibat dari anupaghāta dāna, kekayaan seseorang akan terlindungi dari lima unsur kehancuran (air, api, raja, pencuri, dan pewaris yang tidak baik). Pengelompokan atas lima jenis Dāna ini terdapat dalam Sutta kedelapan dari Kitab Aṅguttara Nikāya.
Kebalikan dari lima jenis dāna ini tidak disebutkan dalam Kitab; tetapi dapat diasumsikan bahwa lima dāna yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki kebajikan adalah sebagai berikut:
(1) Dāna yang dilakukan tanpa keyakinan terhadap hukum sebab akibat (asaddhiya dāna), hanya untuk meniru orang lain atau untuk menghindari celaan dan hinaan. (Dāna ini akan menghasilkan kekayaan dan kemakmuran bagi si penyumbang, tetapi tidak akan memberikan penampilan yang baik.)
(2) Dāna yang dilakukan tanpa memerhatikan dengan saksama bahwa barang yang hendak dipersembahkan telah dipersiapkan dengan baik, segar, dan bersih (asakkacca dāna). (Kekayaan akan dihasilkan dari dāna ini, tetapi si penyumbang tidak akan mendapatkan kepatuhan dan displin dari bawahannya.)
(3) Dāna yang dilakukan pada waktu yang tidak tepat, dan pada kesempatan yang tidak tepat (akāla dāna). (Akan menghasilkan kekayaan tetapi manfaat ini tidak akan berlimpah dan muncul pada waktu tidak diperlukan);
(4) Dāna yang dilakukan secara tidak peduli (ananuggaha dāna) tanpa niat untuk membantu atau menghormati si penerima. (Seseorang akan memperoleh kekayaan atas perbuatan ini, tetapi ia tidak leluasa menikmatinya atau ia bahkan tidak berkesempatan untuk menikmatinya);
(5) Dāna yang dilakukan dengan mempengaruhi wibawa seseorang dan wibawa orang lain (upaghāta dāna). (Kekayaan akan diperoleh dari dāna jenis ini, tetapi kekayaan ini dapat menjadi rusak atau hancur oleh lima musuh.)
Dalam memandang kāla dāna dan akāla dāna, jenis persembahan yang disebutkan di atas, yaitu persembahan pada waktu yang tepat dan waktu yang tidak tepat, harus dipahami bahwa adalah tidak tepat memberikan, bahkan dengan kehendak yang terbaik, persembahan pelita kepada Buddha pada siang hari saat terang, atau makanan saat sore hari.
RAPB - Tipiṭakadhara Miṅgun Sayadaw
Omithofo...
(1) Dāna yang dilakukan dengan keyakinan terhadap hukum sebab akibat (saddhā dāna);
(2) Dāna yang dilakukan setelah memerhatikan dengan saksama bahwa barang yang hendak dipersembahkan telah dipersiapkan dengan baik, segar, dan bersih (sakkacca dāna);
(3) Dāna yang dilakukan pada waktu yang tepat, dan pada kesempatan yang tepat (kāla dāna). (Jika saatnya makan, maka makanan yang dipersembahkan; jika saat Kathina, maka jubah yang dipersembahkan);
(4) Dāna yang dilakukan untuk memberikan bantuan kepada si penerima atau untuk menunjukkan kebaikan terhadap si penerima (anuggaha dāna); dan
(5) Dāna yang dilakukan tanpa mempengaruhi wibawa seseorang dan wibawa orang lain (anupaghāta dāna).
Seluruh lima jenis pemberian ini akan meningkatkan kekayaan dan kemakmuran. Sebagai tambahan, saddhā dāna, menghasilkan penampilan cantik atau tampan. Sebagai akibat dari sakkacca dāna, pengikut dan pelayan akan lebih patuh dan bekerja lebih keras. Hasil dari kāla dāna adalah manfaat yang timbul pada waktu yang tepat dan berlimpah. Sebagai akibat dari anuggaha dāna, seseorang akan dapat secara leluasa menikmati buah kebajikan dan dapat melakukan hal itu secara maksimum. Sebagai akibat dari anupaghāta dāna, kekayaan seseorang akan terlindungi dari lima unsur kehancuran (air, api, raja, pencuri, dan pewaris yang tidak baik). Pengelompokan atas lima jenis Dāna ini terdapat dalam Sutta kedelapan dari Kitab Aṅguttara Nikāya.
Kebalikan dari lima jenis dāna ini tidak disebutkan dalam Kitab; tetapi dapat diasumsikan bahwa lima dāna yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak memiliki kebajikan adalah sebagai berikut:
(1) Dāna yang dilakukan tanpa keyakinan terhadap hukum sebab akibat (asaddhiya dāna), hanya untuk meniru orang lain atau untuk menghindari celaan dan hinaan. (Dāna ini akan menghasilkan kekayaan dan kemakmuran bagi si penyumbang, tetapi tidak akan memberikan penampilan yang baik.)
(2) Dāna yang dilakukan tanpa memerhatikan dengan saksama bahwa barang yang hendak dipersembahkan telah dipersiapkan dengan baik, segar, dan bersih (asakkacca dāna). (Kekayaan akan dihasilkan dari dāna ini, tetapi si penyumbang tidak akan mendapatkan kepatuhan dan displin dari bawahannya.)
(3) Dāna yang dilakukan pada waktu yang tidak tepat, dan pada kesempatan yang tidak tepat (akāla dāna). (Akan menghasilkan kekayaan tetapi manfaat ini tidak akan berlimpah dan muncul pada waktu tidak diperlukan);
(4) Dāna yang dilakukan secara tidak peduli (ananuggaha dāna) tanpa niat untuk membantu atau menghormati si penerima. (Seseorang akan memperoleh kekayaan atas perbuatan ini, tetapi ia tidak leluasa menikmatinya atau ia bahkan tidak berkesempatan untuk menikmatinya);
(5) Dāna yang dilakukan dengan mempengaruhi wibawa seseorang dan wibawa orang lain (upaghāta dāna). (Kekayaan akan diperoleh dari dāna jenis ini, tetapi kekayaan ini dapat menjadi rusak atau hancur oleh lima musuh.)
Dalam memandang kāla dāna dan akāla dāna, jenis persembahan yang disebutkan di atas, yaitu persembahan pada waktu yang tepat dan waktu yang tidak tepat, harus dipahami bahwa adalah tidak tepat memberikan, bahkan dengan kehendak yang terbaik, persembahan pelita kepada Buddha pada siang hari saat terang, atau makanan saat sore hari.
RAPB - Tipiṭakadhara Miṅgun Sayadaw
Omithofo...

Komentar
Posting Komentar