Harmonisasi versi Tao
Harmonis dalam Keluarga,
Keharmonisan hubungan suami dan istri sangatlah ditekankan dalam ajaran Confucius. Kedudukan seorang perempuan kelihatannya menduduki sifat Yin yang mana lebih bersifat menuruti seorang Suami. Tentunya dalam era kehidupan saat ini, telah tercatat banyak sekali perempuan yang menunjukkan emansipasinya dalam ikut berperan serta memajukan kehidupan suatu negara. Perlu juga kita sadari, di sisi lainnya, bahwa sebagai seorang perempuan yang melahirkan anak-anaknya, kiranya peran sebagai seorang ibu rumah tangga juga tidak begitu saja dapat diabaikan. Kedekatan seorang ibu terhadap anak-anaknya sangatlah memegang peranan dalam perkembangan moralitas anaknya tersebut.
Dalam Kitab tentang Puisi (The Book of Poetry / Odes = Shi Cing) disebutkan :
" Buah Pohon Peach sungguh matang, daunnya sungguh segar. Gadis itu akan ke
rumah suaminya, dan dia akan menciptakan kehidupan yang harmonis dalam rumah tangganya."
Apabila rumah tangga telah harmonis, maka seluruh rakyat dalam suatu negara akan dapat diajarkan keharmonisan hidup. Dengan demikian kemampuan untuk memerintah dalam suatu negara tergantung dari keharmonisan rumah tangga.
Keharmonisan dalam rumah tangga juga sangat ditekankan dalam Buddhisme sebagaimana sabda Sang Buddha, "Sebuah keluarga adalah tempat dimana pikiran-pikiran bergabung dan bersentuhan satu dengan lain . Bila pikiran-pikiran ini saling mencintai satu sama lain, rumah itu akan seindah taman bunga yang asri. Namun bila pikiran-pikiran itu tidak harmonis yang satu dengan yang lain, keadaannya adalah bagaikan topan badai yang memporak porandakan isi taman itu. " (Anguttara Nikaya III, 31)
Hubungan suami dengan isteri juga berdasarkan pengertian yang baik dan saling menghormati. Seorang calon isteri selalu dinasehati oleh ibunya untuk dapat menghormati suaminya dan senantiasa menghindari perselihan paham. Seorang isteri dituntut dapat menurut secara patut .
Guru Mencius bersabda, " Apabila seorang lelaki telah dewasa, ayahnya memberikan nasehat-nasehat kepadanya. Pada waktu pernikahan seorang wanita akan dinasehati oleh ibunya dengan memberikan pesan, supaya kalau telah berada di rumah sang suami, haruslah menghormatinya dan jangan sampai berselisih paham. Isteri haruslah menurut secara patut." (Meng Zi III B/2).
Pengertian isteri yang menurut secara patut adalah bahwa isteri harus menurut pada suami jika hal itu adalah benar dan wajar. Bukan berarti seorang isteri harus secara mutlak menuruti kehendak dari suami. Hubungan suami dengan isteri menurut padangan Confucianis adalah hubungan yang berdasarkan keharmonisan, dimana suami menjalankan tugas sebagai suami yang bertanggung jawab sebagai kepala rumah tangga menjaga nama baik keluarga. Begitu pula isteri juga harus menjalankan tugas sebagai isteri yang baik
sebagai ibu rumah tangga, dan kedua belah pihak saling menghormati, sehingga
dengan demikian akan terbinalah keharmonisan dalam rumah tangga.
Hubungan suami dan isteri dalam menciptakan kehidupan yang harmonis juga sangat ditekankan dalam Buddhisme dimana sang isteri juga diingatkan untuk secara hati-hati menjaga kekayaan suaminya sebagaimana sabda Sang Buddha, "Cekatan dan cakap dalam pekerjaannya, harmoni dengan orang lain, demikian seorang isteri menyenangkan suaminya , dan dengan hati-hati menjaga kekayaan suaminya." (Anguttara Nikaya IV, 271).
Hubungan antar saudara lebih ditekankan kepada sikap dan sopan santun yang lebih bersusila antara saudara yang lebih muda kepada saudaranya yang lebih tua. Bagaimanapun seorang saudara yang sama-sama berasal dari satu kandungan, serta dilahirkan dalam satu keluarga yang sama, tentunya memiliki lebih banyak waktu untuk saling mengenal dari semenjak kecil, tanpa adanya suatu sikap mendendam sebagaimana seorang musuh bebujutan. Sikap saling menghormati ini dituntut dari kedua belah pihak, baik dari saudara yang lebih muda ataupun saudara yang lebih tua.
"Dia memperlakukan saudara tuanya dengan benar, dia memperlakukan saudara mudanya dengan benar. " (Shi Cing)
Confucius sangat menekankan agar seseorang yang masih muda lebih bersikap sopan terhadap yang lebih tua baik di dalam rumah ataupun di luar rumah. Etika ini kelihatan secara nyata sudah mengendur dalam era kehidupan saat ini. Sudah sering kita menyaksikan dalam kehidupan kita sehari-hari dimana terdapat banyak anak-anak muda yang sudah tidak menghormati orang lain yang lebih tua bahkan saudara kandungnya sendiripun tidak dihormati sama sekali.
Sikap demikian sering terbentuk karena pengaruh pergaulan di luar, ataupun tindakan orangtua yang kurang menciptakan kondisi kerukunan hubungan anak-anaknya selagi masih muda, akhirnya tanpa disadari akan menghancurkan benih cinta kasih terhadap sesamanya.
Guru Khung Fu Zi bersabda,
" Seorang yang masih muda, di rumah hendaklah berlaku bhakti, dan di luar rumah hendaklah bersikap sopan terhadap yang lebih tua. Dia haruslah bersungguh-sungguh dan dapat dipercaya. Dia haruslah memperhatikan cinta kasih terhadap sesama, dan menjalin hubungan persahabatan dengan orang yang memahami cinta kasih." (Lun Yu I/6)
Hubungan antara saudara, menurut pandangan Confucius, merupakan bagian dari terciptanya keharmonisan antara manusia dan kemudian berpadu dengan hukum Ketuhanan (Th'ien Li), dimana saudara lebih tua harus menyayangi yang lebih muda; saudara yang lebih muda harus menghormati yang lebih tua.
Omithofo...
Keharmonisan hubungan suami dan istri sangatlah ditekankan dalam ajaran Confucius. Kedudukan seorang perempuan kelihatannya menduduki sifat Yin yang mana lebih bersifat menuruti seorang Suami. Tentunya dalam era kehidupan saat ini, telah tercatat banyak sekali perempuan yang menunjukkan emansipasinya dalam ikut berperan serta memajukan kehidupan suatu negara. Perlu juga kita sadari, di sisi lainnya, bahwa sebagai seorang perempuan yang melahirkan anak-anaknya, kiranya peran sebagai seorang ibu rumah tangga juga tidak begitu saja dapat diabaikan. Kedekatan seorang ibu terhadap anak-anaknya sangatlah memegang peranan dalam perkembangan moralitas anaknya tersebut.
Dalam Kitab tentang Puisi (The Book of Poetry / Odes = Shi Cing) disebutkan :
" Buah Pohon Peach sungguh matang, daunnya sungguh segar. Gadis itu akan ke
rumah suaminya, dan dia akan menciptakan kehidupan yang harmonis dalam rumah tangganya."
Apabila rumah tangga telah harmonis, maka seluruh rakyat dalam suatu negara akan dapat diajarkan keharmonisan hidup. Dengan demikian kemampuan untuk memerintah dalam suatu negara tergantung dari keharmonisan rumah tangga.
Keharmonisan dalam rumah tangga juga sangat ditekankan dalam Buddhisme sebagaimana sabda Sang Buddha, "Sebuah keluarga adalah tempat dimana pikiran-pikiran bergabung dan bersentuhan satu dengan lain . Bila pikiran-pikiran ini saling mencintai satu sama lain, rumah itu akan seindah taman bunga yang asri. Namun bila pikiran-pikiran itu tidak harmonis yang satu dengan yang lain, keadaannya adalah bagaikan topan badai yang memporak porandakan isi taman itu. " (Anguttara Nikaya III, 31)
Hubungan suami dengan isteri juga berdasarkan pengertian yang baik dan saling menghormati. Seorang calon isteri selalu dinasehati oleh ibunya untuk dapat menghormati suaminya dan senantiasa menghindari perselihan paham. Seorang isteri dituntut dapat menurut secara patut .
Guru Mencius bersabda, " Apabila seorang lelaki telah dewasa, ayahnya memberikan nasehat-nasehat kepadanya. Pada waktu pernikahan seorang wanita akan dinasehati oleh ibunya dengan memberikan pesan, supaya kalau telah berada di rumah sang suami, haruslah menghormatinya dan jangan sampai berselisih paham. Isteri haruslah menurut secara patut." (Meng Zi III B/2).
Pengertian isteri yang menurut secara patut adalah bahwa isteri harus menurut pada suami jika hal itu adalah benar dan wajar. Bukan berarti seorang isteri harus secara mutlak menuruti kehendak dari suami. Hubungan suami dengan isteri menurut padangan Confucianis adalah hubungan yang berdasarkan keharmonisan, dimana suami menjalankan tugas sebagai suami yang bertanggung jawab sebagai kepala rumah tangga menjaga nama baik keluarga. Begitu pula isteri juga harus menjalankan tugas sebagai isteri yang baik
sebagai ibu rumah tangga, dan kedua belah pihak saling menghormati, sehingga
dengan demikian akan terbinalah keharmonisan dalam rumah tangga.
Hubungan suami dan isteri dalam menciptakan kehidupan yang harmonis juga sangat ditekankan dalam Buddhisme dimana sang isteri juga diingatkan untuk secara hati-hati menjaga kekayaan suaminya sebagaimana sabda Sang Buddha, "Cekatan dan cakap dalam pekerjaannya, harmoni dengan orang lain, demikian seorang isteri menyenangkan suaminya , dan dengan hati-hati menjaga kekayaan suaminya." (Anguttara Nikaya IV, 271).
Hubungan antar saudara lebih ditekankan kepada sikap dan sopan santun yang lebih bersusila antara saudara yang lebih muda kepada saudaranya yang lebih tua. Bagaimanapun seorang saudara yang sama-sama berasal dari satu kandungan, serta dilahirkan dalam satu keluarga yang sama, tentunya memiliki lebih banyak waktu untuk saling mengenal dari semenjak kecil, tanpa adanya suatu sikap mendendam sebagaimana seorang musuh bebujutan. Sikap saling menghormati ini dituntut dari kedua belah pihak, baik dari saudara yang lebih muda ataupun saudara yang lebih tua.
"Dia memperlakukan saudara tuanya dengan benar, dia memperlakukan saudara mudanya dengan benar. " (Shi Cing)
Confucius sangat menekankan agar seseorang yang masih muda lebih bersikap sopan terhadap yang lebih tua baik di dalam rumah ataupun di luar rumah. Etika ini kelihatan secara nyata sudah mengendur dalam era kehidupan saat ini. Sudah sering kita menyaksikan dalam kehidupan kita sehari-hari dimana terdapat banyak anak-anak muda yang sudah tidak menghormati orang lain yang lebih tua bahkan saudara kandungnya sendiripun tidak dihormati sama sekali.
Sikap demikian sering terbentuk karena pengaruh pergaulan di luar, ataupun tindakan orangtua yang kurang menciptakan kondisi kerukunan hubungan anak-anaknya selagi masih muda, akhirnya tanpa disadari akan menghancurkan benih cinta kasih terhadap sesamanya.
Guru Khung Fu Zi bersabda,
" Seorang yang masih muda, di rumah hendaklah berlaku bhakti, dan di luar rumah hendaklah bersikap sopan terhadap yang lebih tua. Dia haruslah bersungguh-sungguh dan dapat dipercaya. Dia haruslah memperhatikan cinta kasih terhadap sesama, dan menjalin hubungan persahabatan dengan orang yang memahami cinta kasih." (Lun Yu I/6)
Hubungan antara saudara, menurut pandangan Confucius, merupakan bagian dari terciptanya keharmonisan antara manusia dan kemudian berpadu dengan hukum Ketuhanan (Th'ien Li), dimana saudara lebih tua harus menyayangi yang lebih muda; saudara yang lebih muda harus menghormati yang lebih tua.
Omithofo...

Komentar
Posting Komentar