Dharma Tentang Atheis

Seorang Pak Tua yang Ateis

Di alam baka, saya melihat seorang pak tua. Saya kenal pak tua ini. la adalah ayahanda seorang umatku.

Umatku ini membangun altar mandala, sang ayah merusakinya.

Umatku ini berpuja bakti, sang ayah mencabut dupa dan menyiraminya dengan air.

Umatku ini membaca sutra, sang ayah melemparkan kitab sutra ke dalam api.

Umatku ini bersembah sujud pada langit, sang ayah memaki-maki sambil menuding ke langit.

Umatku ini membawa pulang sebuah pratima Padmakumara berukuran kecil, sang ayah membuang pratima tersebut ke kubangan kotoran.

Menurut pak tua, segalanya menjadi kosong setelah manusia mati, tiada dewa, dan tiada Buddha. Pak tua bersikeras bahwa tiada surga, tiada neraka, tiada tumimbal lahir, dan tiada karma. Setelah manusia meninggal, segala-galanya pun sirna.

Begitu melihat vihara, pak tua akan menghujat dengan kata-kata kotor.

Begitu bertemu dengan bhiksu, pak tua akan memaki dengan sebutan 'kutu beras’.
Begitu bertemu dengan sadhaka, pak tua akan memaki dengan sebutan ‘perampok’.

Pak tua berkomentar, “Saya hanya percaya pada uang. Uang dapat membeli segala-galanya.”

Pak tua berkata, “Buddha Sakyamuni itu pembohong.  Sheng-yen Lu itu pembohong. Semua agama itu omong kosong.



Setelah meninggal dunia, pak tua tiba di alam baka.

Melihat pak tua yang keras kepala ini, Raja Yama pun tanpa banyak basa-basi, “Orang dungu, reinkarnasilah menjadi yang dungu!”

Seorang petugas alam baka mengenakan sehelai ‘baju kulit babi’ pada diri pak tua. Pak tua reinkarnasi menjadi 'babi jantan’.

Babi yang masih bayi ini sejak kecil sudah dirawat dengan baik. Kerjaannya makan melulu. Semakin hari semakin gemuk.

Babi pak tua ini tidak perlu menggunakan otak. Wajahnya semakin kelihatan dungu.

Pemilik ternak sangat sayang padanya, di musim panas dikipasi dengan kipas angin, di musim dingin diberi penghangat.

Bahkan pemilik ternak memperdengarkan musik padanya.

Babi pak tua ini disuguhi makanan ‘Eurofaf’, dipijati.

Tubuh babi pak tua ini mulai memadati kandangnya.



Pada suatu hari perayaan penyambutan dewa, terselenggaralah kontes ‘babi jantan terbesar’.

Babi pak tua ini diusung sebagai kurban. Penjagal mulai mencabuti bulunya lalu menyembelihnya. “Pak Tua” sempat menjerit, lantas mati.

Di bawah tubuh babi pak tua terdapat bongkahan es batu.

Mulut babi pak tua mengigit sebutir ‘jeruk’.

Dalam perlombaan 'babi jantan terbesar’, babi pak tua meraih juara satu. Arwah pak tua turun ke neraka.

Raja Yama berkata, “kenakan lagi baju kulit babi!”

“Saya tidak mau jadi babi,” bantah pak tua.

“Kamu akan menjadi babi sebanyak sekian kali kamu mencela Buddha dan dewa. Satu makian satu balasan. Jadilah kurban di sana!”

Pak tua langsung pingsan di tempat. Setelah siuman, ia sudah menjadi anak babi lagi. Pak tua menyadari dirinya telah bertindak bodoh, namun, sudah terlambat. Sungguh malang!



Tentu saja, kontes ‘babi jantan terbesar’ untuk dijadikan kurban merupakan salah satu kepercayaan takhayul. Saya pun tidak setuju dengan adat-istiadat demikian.

Namun tumimbal lahir dan hukum karma merupakan hal yang sangat nyata. Pak tua yang berkepala batu dan selalu menaruh rasa benci pada urusan sadhana ini boleh dikata orang yang terbodoh di antara orang yang dungu.

Sementara itu, sebagian sadhaka yang melekat pada ‘uang’ dan bermata duitan, bukankah lebih dungu daripada pak tua?

Sebuah pertanyaanku untuk sidang pembaca:

Seorang sadhaka tidak memanfaatkan dana yang diperoleh untuk pembabaran Dharma demi umat, melainkan untuk berfoya-foya atas dirinya sendiri. Di hadapan Raja Yama, manifestasi apa pula yang akan dialaminya?

Silakan renungi!

.

Tulisan ini dikutip dari karya tulis Grand Master Sheng-yen Lu ke 187, “Manifestasi Neraka.” 地獄變現記

Omithofo...


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ta Pei Cou dan Makna

Empat Golongan Nasib Manusia

Guang Ze Zun Wang