Dhammapada Atta vagga 165

BUDDHA HANYA MENUNJUKKAN JALAN
(Engkau Sendirilah Yang Harus Berusaha)

     Du kota Savatthi,  India Utara,  Buddha tinggal di sebuah pusat kegiatan yang luas tempat orang-orang bermeditasi dan mendengar ceramah Dhamma.
Setiap petang,  seorang pemuda biasa datang mendengarkab khotbah yang disampaikan oleh Buddha.   Bertahun-tahun ia datang memperhatikan Buddha,  tetapi tak sekalipun ia mempraktikkan ajaran-ajarannya.

     Setelah beberapa tahun,  di suatu petang orang ini datang lebih awal dan menemui Buddha sendirian.   Ia mendekatinya dan berkata,  "Bhante,  aku punya satu pertanyaan yang selalu muncul dalam pikiranku,  yang menimbulkan keragu-raguan."
     "Oh ?  Seharusnya tidak boleh ada keraguan di jalan Dhamma.  Marilah kita perjelas.  Apa pertanyaanmu ?"

     "Bhante selama bertahun-tahun belakangan ini aku mendatangi pusat meditasi ini,  dan aku perhatikan ada sejumlah besar petapa di sekitarmu,  bhikkhu dan bhikkuni,  dan sebagian besar orang lagi orang awam,  baik laki-laki maupun perempuan.  Selama bertahun-tahun mereka datang kepada-Mu.   Beberapa dari mereka,  dapat kulihat dengan pasti telah mencapai tahap akhir, sangat jelas mereka sepenuhnya terbebaskan.  Aku juga dapat melihat bahwa yang lainnya telah mengalami beberapa perubahan dalam hiduo mereka.  Mereka sepenuhnya terbebaskan."

     "Tetapi bhante,  aku juga melihat bahwa sejumlah besar orang,  termasuk diriku sendiri,  tetap seperti semula,  bahkan kadang-kadang mereka.lebih buruk.
Mereka tidak berubah sama sekali,  atau tidak berubah menjadi lebih baik.  Mengapa demikian bhante ?  Orang-orang datang kepadamu,  sebagai orang yang mulia, tercerahkan sepenuhnya,  memiliki kekuatan, orang yang berbelas kasih.   Mengapa bhante tidak menggunakan saja kekuatan dan belas kasihmu untuk membebaskan mereka semua?"
     Buddha tersenyum dan berkata, 
" Anak muda,  di manakah engkau tinggal ?
Dari mana asalmu sebenarnya ?"
     "Bhante aku tinggal di sini,  di kota Savatthi,  ibu kota negara Kosala."
     ",Ya,  tetapi gambaran wajahmu menunjukkan engkau bukan berasal dari bagian negeri ini.  Dari mana asalmu sebenarnya ?"
     "Bhante,  aku berasal dari kota Rajagaha, ibu kota negara Magadha.  Aku datang dan tinggal di sini, di Savatthi beberapa tahun lalu
    "Dan apakah engkau telah memutuskan hubunganmu dengan Rajagaha?"
     "Tidak bhante,  Aku tetap punya hubungan ke sana.  Aku punya teman di sana dan aku punya bisnis di sana."
     "Kalau begitu,  mestinya engkau sering-sering pergi dari Savatthi ke Rajagaha ?"
     "Benar bhante.  Setiap tahun aku sering berkunjung ke Rajagaha dan kembali ke Savatthi."
     "Begitu sering bepergian dan kembali melalyi jalan dari sini ke Rajagaha,  tentunya engkau kenal betul jalan itu ?"
     "Oh, benar bhante.  Aku tahu dengan baik.
Aku hampir mengatakan bahwa jika mataku ditutup sekalipun,  aku bisa menemukan.jalan ke Rajagaha.  Sudah sering sekali aku berjalan di jalan itu."
     ;Dan teman-temanmu,  mereka yang kenal baik denganmu,  tentunya mereka pasti tahu bahwa engkau berasal dari Rajagaha dan tinggal di sini ?"  Mereka pasti tahu bahwa engkau seringkali mengunjungi Rajagaha fan kembali,  dan bahwa engkau mengenal dengan baik jalan itu dari sini ke Rajagaha.

     "Oh benar bhante,  mereka semua yang akrab dengan ku tahu bahwa aku sering pergi ke Rajagaha dan bahwa aku mengenal jalan itu dengan baik."
     "Lalu pasti pernah terjadi.  Beberapa dari mereka datang padamu dan meminta kepada mu untuk menjaskan jalan itu dari sini ke Rajagaha.  Apakah engkau menyembunyikan atau menerangkan jalan itu kepada mereka dengan jelas ?"
     "Mengapa harus disembunyikan bhante ?"
Aku akan jelaskan kepada mereka sejelas yang aku bisa :  engkau mulai berjalan ke timur,  lalu mengarah ke Benares,  lalu terus saja sampai engkau sampai ke Gaya,  dan kemudian Rajagaha.  Aku akan jelaskan jalan itu dengan sangat gamblang kepada mereka bhante."
      "Dan orang-orang ini,  yang telah kau berikan keterangan sedemikian jelas itu,  apakah mereka semuanya akan sampai di Rajagaha ?"
    Bagaimana bisa begitu bhante ?  Mereka yang berjalan menempuh seluruh jalan itu akan sampai ke tujuannya,  hanya mereka yang akan sampai di Rajagaha."

     "Inilah yang akan ku jelaskan kepadamu anak muda. 
Orang-orang yang rajin mendatangiku,  tahu bahwa orang inilah yang menempuh jalan dari sini ke Nibbana,  dan tahu betul soal itu.   Mereka datang kepadaku dan bertanya,  apakah itu jalan ke Nibbana menuju pembebasan ?  Dan apakah ada yang disembunyikan ?
Aku terangkan hal itu kepada mereka dengan jelas : "INILAH JALAN ITU" 
Jika ada orang yang hanya menganggukkan kepalanya dan berkata,  ucapan yang bagus,  ucapan yang bagus,  ucapan yang bagus,  sebuah jalan yang indah,  tetapi aku tak ingin melangkah disana. 
Sebuah jalan yang indah tetapi aku tak ingin mendapat kesulitan menjalaninya,  lalu bagaimana orang seperti itu bisa mencapai tujuan akhir ?"
     "Aku tidak memikul siapa pun di bahuku ke arah tujuan akhir. 
Tak seorang pun yang dapat  memikul orang lain dibahunya menuju tujuan.akhir. 
Tak lebih,  dengan cinta dan belaskasih,  seseorang bisa berkata,  nah ini jalan itu,  dan disinilah aku harus berjalan.
Engkau juga bekerja,  engkau juga berjalan, dan engkau akan memcapai tujuan.akhir.
Tetapi setiap orang harus berjalan sendiri-sendiri,  harus mengambil setiap langkah sendiri di jalan itu. 
Dia yang mengambil satu langkah berarti satu langkah lebih dekat pada tujuan. 
Dia yang mengambil ratusan langkah,  berarti ratusan langkah lebih dekat pada tujuan. 
Dia yang mengambil semua langkah di jalan itu,  mencapai tujuan akhir.
Engkau sendiri yang harus berjalan di jalan itu."

 Para Buddha hanya mengajarkan Sang Jalan
 namun engkau sendirilah yang harus
 berusaha. 
 (Dhammapada. -  Magga Vagga, 176)

Oleh dirinya sendiri perbuatan jahat dilakukan
Oleh perbuatan sendiri dirinya menjadi ternoda,
Oleh diri sendiri perbuatan jahat tidak dilakukan,
Oleh usaha sendiri bhatinnya menjadi suci.
Kesucian,  tergantung pada usaha sendiri,
Seseorang tidak dapat membuat orang lain menjadi suci.
(Dhammapada - Atta Vagga, 165)



Omithofo...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ta Pei Cou dan Makna

Empat Golongan Nasib Manusia

Guang Ze Zun Wang