Bendahara Besar Yang Kikir

78.  ILLĪSA-JĀTAKA

Kisah  ini  diceritakan oleh  Sang  Guru  ketika  berada  di  Jetawana,  mengenai  seorang Tuan  Bendahara  Besar  yang  kikir. 

Di  dekat  Kota  Rajagaha, terdapat sebuah kota yang bernama  Gula  Merah  (Jagghery),  dan  di  sini  tinggallah  seorang Tuan  Bendahara  Besar,  yang  dikenal  sebagai  Jutawan  Kikir, yang  mempunyai  kekayaan  sebesar  delapan  ratus  juta. 

Tidak lebih  dari  setetes  kecil  minyak  yang  diteteskan  di  atas  sehelai rumput,  seperti  itulah  kekayaan  yang  ia  dermakan  ataupun gunakan  untuk  kesenangannya  sendiri.  Maka  semua kekayaannya  tidak  berguna  baik  untuk  keluarganya  maupun untuk  para  guru  dan  brahmana  :  harta  itu  dibiarkan  tidak dinikmati, seperti  kolam  yang  dijaga  oleh  siluman. 

Suatu  hari, Sang  Guru  bangun  pada  waktu  subuh,  dan  digerakkan  oleh  rasa belas  kasihan  yang  besar,  (dengan  kesaktiannya  yang  luar biasa,)  saat  mengamati  mereka  yang  telah  siap  untuk  menerima ajarannya  di  dunia  ini,  beliau  mengetahui  bahwa  seorang Bendahara  dan  istrinya  yang  berada  sekitar  empat  ratus  mil jauhnya telah  siap untuk  mencapai  kesucian Sotāpanna.

Sehari  sebelumnya,  Tuan  Bendahara  Besar  itu  pergi  ke istana  untuk  bertemu  dengan  raja,  dan  dalam  perjalanan  pulang ke  rumah,  ia  melihat  seorang  penduduk  dusun  yang  tidak terpelajar,  sedang  makan  sepotong  kue  yang  diisi  dengan  bubur.

Pandangan  sekilas  itu  membangkitkan  keinginan  yang  sangat kuat  untuk  makan  kue  tersebut  dalam  dirinya.  Tetapi,  saat  tiba  di rumahnya,  ia  berpikir, 

“Jika  saya  mengatakan  saya menginginkan  sepotong  kue  isi,  semua  orang  akan  meminta bagian  atas  makananku;  hal  itu  berarti  menghabiskan  begitu banyak  beras,  gi,  dan  gula  milikku.  Saya  tidak  boleh  mengatakan apa-apa  pada  siapa  pun.” 

Maka  ia  berjalan  tanpa  tujuan, berjuang  melawan  keinginannya  yang  begitu  kuat.  Jam  demi  jam berlalu,  ia  menjadi  semakin  pucat  pasi,  dan  urat  nadi  di  sekujur tubuhnya  yang  kurus  tampak  jelas.  Tidak  mampu  menahan  lebih lama  lagi,  akhirnya  ia  pergi  ke  kamarnya  dan  bertelungkup  di tempat  tidurnya.  Namun,  tidak  sepatah  kata  pun  yang  ia  ucapkan karena  takut  menghabiskan  kekayaannya. 

Istrinya  menemuinya, mengusap  punggunggnya,  dan  berkata;

“Ada  masalah  apa, Suamiku?”

“Tidak  ada  apa-apa,”  katanya. 

“Mungkinkah  Raja  marah kepadamu?” 

“Tidak,  Raja  tidak  marah.” 

“Apakah  anak-anak  atau para  pelayan  kita  melakukan  sesuatu  yang  mengganggumu?”

“Bukan  hal  itu  juga.” 

“Baiklah,  apakah  kamu  mengidamkan sesuatu?” 

Namun,  ia  tetap  bungkam,  semua  itu  karena ketakutannya  yang  tidak  masuk  akal  bahwa  ia  mungkin menghabiskan  kekayaannya;  ia  tetap  berbaring  di  tempat tidurnya  tanpa  mengatakan  apa-apa. 

“Katakanlah,  Suamiku,” kata  istrinya,  “beritahukanlah  apa  yang  engkau  idamkan.” 

“Ya,” katanya  sambil  menelan  ludah,  “saya  mengidamkan  sesuatu.”

“Dan  apakah  itu,  Suamiku?” 

“Saya  ingin  makan  kue  isi.” 

“Lo, mengapa  tidak  mengatakannya  sejak  awal?  Engkau  kan  cukup kaya.  Saya  akan  masak  kue  yang  cukup  banyak  untuk  menjamu seluruh  Kota  Gula  Merah.” 

“Mengapa  memusingkan  mereka? Mereka  harus  bekerja  untuk  mendapatkan  makanan  mereka sendiri.” 

“Baiklah,  saya  akan  masak  hanya  cukup  untuk  orang-orang  yang  tinggal  di  jalan  yang  sama  dengan  kita.”   

“Betapa kayanya  engkau!”   

“Kalau  begitu,  saya  akan  masak  hanya  cukup untuk  semua  anggota  rumah  tangga  kita.” 

“Betapa  borosnya engkau!” 

“Baiklah,  saya  akan  masak  hanya  cukup  untuk  anak-anak  kita.” 

“Mengapa  memikirkan  mereka?” 

“Baiklah  kalau demikian,  saya  hanya  akan  sediakan  untuk  kita  berdua.”

“Mengapa  engkau  harus  ikut  makan?” 

“Kalau  begitu,  saya akan memasaknya   sekali   masak cukup hanya untuk engkau sendiri,”  kata  istrinya.

“Pelan-pelan,”  kata  Tuan Bendahara  Besar  itu,  “ada banyak  orang  yang  mengintai  aktivitas  masak-memasak  di tempat  ini.  Pilih  beras  pecah,  hati-hati  untuk  menyisakan beras  utuh,  bawa  sebuah  kompor  arang,  belanga,  sedikit  saja, susu,  gi,  madu,  dan  air  gula;  kemudian  bawa  semua  itu bersamamu  ke  lantai  tujuh  rumah  ini  dan  masaklah  di  sana,  saya akan  duduk di sana  sendirian dan makan tanpa diganggu.”

Patuh  pada  perintah  suaminya,  istrinya  membawa semua  barang  yang  dibutuhkan,  menaikkan  semuanya  seorang diri, menyuruh  semua  pelayannya  pergi,  dan  menyuruh Bendahara  itu  naik. 

Bendahara  itu  pun  naik,  menutup  dan memalang  pintu  demi  pintu  yang  ia  lalui,  hingga  akhirnya  tiba  di lantai  tujuh,  pintu  itu  juga  ia  tutup  dengan  rapat.  Lalu  ia  duduk.

Istrinya  menyalakan  api  di  kompor  arang  tersebut,  meletakkan belanga di atasnya, dan mulai memasak  kue itu.

Pagi-pagi Sang  Guru  berkata  kepada Mahamoggallana  Thera, 

“Moggallana, Jutawan  Kikir  di  Kota  Gula  Merah  dekat  Rajagaha,  ingin makan  kue  seorang  diri,  begitu  takut  orang  lain  mengetahuinya, sehingga  ia  menyuruh  agar  kue  itu  dimasak  untuk  dirinya  saja  di lantai  tujuh  rumahnya.  Pergilah  ke  sana;  yakinkan  agar  ia mengorbankan  kepentingannya,  dan  dengan  kekuatan  gaib angkutlah  suami  istri,  kue,  susu,  gi,  dan  semuanya  ke  sini  ke Jetawana.  Hari  ini,  saya  dan  lima  ratus  orang  bhikkhu  akan tinggal  di  sini,  dan  saya  akan  menjadikan  kue-kue  yang disediakan mereka sebagai makanan.” 

Patuh  pada  petunjuk  Sang  Guru,  Moggallana  Thera dengan  daya  supramanusia  tiba  di  Kota  Gula  Merah,  berhenti  di tengah  udara  di  depan  jendela  kamar  itu,  dengan  jubah  dalam dan  jubah  luar  yang  dikenakan  sebagaimana  mestinya,  bersinar bagaikan  patung  yang  dihiasi  permata. 

Penampakan  diri  Sang Thera  yang  tiba-tiba  membuat  Bendahara  itu  gemetar  ketakutan.

Ia  berpikir,  “Untuk  menghindari  pengunjunglah  maka  saya  naik ke  sini;  dan  sekarang,  datang  salah  seorang  dari  mereka  di jendela.” 

Gagal  menyadari  pemahaman  yang  perlu  ia  pahami,  ia menggerutu  dengan  gusar,  seperti  gula  dan  garam  yang dilemparkan  ke  api,  ia  keluar  sambil  berkata,  “Guru,  apa  yang akan  engkau  dapatkan,  dengan  hanya  berdiri  di  tengah  udara? Oh,  meskipun  engkau  bisa  mondar-mandir  hingga  membentuk sebuah  jalur  di  udara  yang  tidak  berjalur,  engkau  tetap  tidak akan  mendapatkan apa pun.”

Sang  Thera  pun  mulai  mondar-mandir  di  udara. 

“Apa yang  akan  engkau  dapatkan  dengan  mondar-mandir  di  udara?” kata  saudagar  kaya  itu,  “Meskipun  engkau  bisa  duduk  bersila bermeditasi  di  udara,  namun,  engkau  tetap  tidak  akan mendapatkan  apa  pun.” 

Sang  Thera  pun  duduk  dengan  kaki bersila  di  udara. 

Lalu  Bendahara  itu  berkata,  “Apa  yang  akan engkau  dapatkan  dengan  duduk  di  sana?  Meskipun  engkau  bisa datang  dan  berdiri  di  ambang  jendela;  namun,  engkau  tetap  tidak akan  mendapatkan  apa  pun.” 

Sang  Thera  pun  berdiri  di  ambang jendela. 

“Apa  yang  akan  engkau  dapatkan  dengan  berdiri  di ambang  jendela?  Oh,  meskipun  engkau  bisa  menyemburkan asap,  tetap  tidak  akan  mendapatkan  apa  pun,”  kata  Bendahara itu. 

Lalu  Sang  Thera  pun  menyemburkan  asap  tanpa  henti hingga  seluruh  tempat  itu  dipenuhi  asap. 

Mata  Bendahara  itu mulai  terasa  sakit  seakan-akan  ditusuk  dengan  jarum;  dan khawatir kalau akhirnya rumahnya  akan  terbakar,  ia menambahkan,  “Engkau  tidak  akan  mendapatkan  apa  pun bahkan  jika  engkau  terbakar.” 

Ia  berpikir,  “Thera  ini  sangat  keras hati.  Ia  tidak  akan  pergi  dengan  tangan  kosong.  Saya  harus  memberikan  satu  kue  saja  kepadanya.” 

Maka  ia  berkata  kepada istrinya,  “Sayangku,  masaklah  satu  potong  kecil  kue  dan  berikan pada guru itu  agar  kita bisa  terbebas darinya.”

Maka  istrinya  mencampur  sedikit  adonan  dalam  belanga. Namun  adonan  itu  terus  bertambah  banyak  hingga  memenuhi seluruh  belanga  itu,  dan  berkembang  menjadi  sebuah  kue  yang sangat  besar. 

“Pasti  engkau  telah  menggunakan  bahan  yang banyak,”  seru  Bendahara  itu  saat  melihatnya. 

Dan  ia  sendiri dengan  menggunakan  ujung  sendok  mengambil  secuil  adonan itu,  dan  memasukkannya  ke  dalam  tungku  untuk  dipanggang. Namun,  secuil  adonan  yang  diambilnya  itu  berkembang  menjadi begitu  besar. 
Satu  per  satu,  setiap  adonan  yang  diambilnya berkembang  menjadi  begitu  besar. 

Dengan  putus  asa,  akhirnya ia  berkata  kepada  istrinya,  “Berikan  sepotong  kue  kepadanya, Sayang.” 

Namun,  saat  ia  mengambil  sepotong  kue  dari keranjang,  seketika  itu  juga  kue-kue  yang  lain  menempel  pada kue  itu.  Maka  ia  berseru  kepada  suaminya  bahwa  semua  kue  itu menempel  sekaligus,  dan  ia  tidak  bisa  memisahkannya. 

“Oh, saya  akan  segera  pisahkan  kue-kue  itu,”  kata  Bendahara  itu. Namun, ternyata ia tidak  bisa melakukannya.

Lalu  kedua  suami  istri  itu  memegang  gumpalan  besar kue  itu  di  sudutnya,  dan  mencoba  untuk  memisahkannya. Namun,  menarik  sebisa  mereka,  mereka  tidak  bisa  memberikan pengaruh  lebih  secara  bersama,  maka  mereka  lakukan  secara terpisah  terhadap  gumpalan  besar  kue  itu. 

Saat  saudagar  kaya itu  menarik  kue-kue  tersebut,  ia  dipenuhi  oleh  keringat,  dan keinginannya  untuk  memakan  kue  itu  sirna. 

Lalu  ia  berkata kepada  istrinya,  “Saya  tidak  menginginkan  kue-kue  itu  lagi;  berikan  kue-kue  itu,  keranjang,  dan  semuanya  kepada  petapa ini.” 

Istrinya  menghampiri  Sang  Thera  dengan  keranjang  di tangannya. 

Lalu  Sang  Thera  mewejang  Dhamma  kepada pasangan  tersebut,  dan  memberitahukan  kemuliaan  Ti  Ratana (Buddha,  Dhamma,  dan  Sanggha).  Mengajarkan  bahwa  dengan memberikan  derma  secara  benar,  ia  membuat  hasil  dari pemberian  derma  dan  kebajikan-kebajikan  lainnya  bersinar laksana  bulan  purnama  di  langit. 

Merasa  senang  setelah mendengar  kata-kata  Sang  Thera,  Bendahara  itu  berkata, “Bhante,  datanglah  ke  sini  dan  duduklah  di  dipan  ini  untuk  makan kue.” 

“Tuan  Bendahara  Besar,”  kata  Sang  Thera,  “Buddha Yang  Maha bijaksana  bersama  lima  ratus  orang  bhikkhu  sedang duduk  di wihara  menunggu  makanan kue  ini.  Jika  ini memberikan kegembiraan  kepada  Anda,  saya  akan  meminta  Anda  membawa istri  dan kue-kue  itu bersamamu,  dan  kita  pergi  menghadap  Sang Guru.” 

“Namun  Bhante,  di  manakah  Sang  Guru  berada  saat  ini?”

“Empat  puluh  lima  yojana  dari  sini,  di  wihara  di  Jetawana.”

“Bagaimana  cara  kita  semua  pergi  ke  sana,  Bhante,  tanpa kehilangan  waktu  yang  lama  dalam  perjalanan?” 

“Jika  ini memberikan  kegembiraan  kepada  Anda,  Tuan  Bendahara  Besar, saya  akan  membawa  kalian  ke  sana  dengan  kekuatan  gaibku. Puncak  tangga  rumahmu  akan  tetap  berada  di  tempatnya, namun  bagian  bawahnya  akan  berada  di  gerbang  utama Jetawana.  Dengan  cara  inilah  saya  akan  membawa  kalian menghadap  Sang  Guru,  saat  tiba  di  bawah.” 

“Kalau  begitu, lakukanlah, Bhante,”  kata  Bendahara itu.

Lalu  Sang  Thera  membiarkan  puncak  tangga  tetap berada  di  tempatnya,  memerintahkan,  “Jadilah  kaki  tangga rumah  ini  berada  di  gerbang  utama  Jetawana.”  Dan  itulah  yang terjadi.  Dengan  cara  demikian  Sang  Thera  membawa  Bendahara dan  istrinya  ke  Jetawana,  lebih  cepat  dari  waktu  yang  mereka butuhkan untuk menuruni tangga.

Lalu  suami  istri  itu  menghadap  Sang  Guru  dan mengatakan  bahwa  waktu  makan  telah  tiba. 

Sang  Guru  masuk ke dalam ruang makan, dan duduk  di tempat duduk Buddha yang telah  dipersiapkan  untuknya,  dengan  Bhikkhu  Sanggha  berada  di sekelilingnya. 

Lalu  Tuan  Bendahara  Besar  menuangkan  air derma  ke  tangan  Buddha  Yang  Mahamulia  yang mengepalai  Bhikkhu  Sanggha,  sementara  istrinya  memasukkan sepotong  kue  ke  dalam  patta  Bhagava.  Dengan  ini,  Beliau mengambil  apa  yang  dibutuhkan  untuk  menyokong  hidupnya, demikian  juga  dengan  kelima  ratus  orang  bhikkhu  itu.

Selanjutnya,  Bendahara  itu  berkeliling  memberikan  susu  yang dicampur  dengan gi, madu, dan  gula merah.

Sang Guru dan para bhikkhu  menyudahi  acara  makan  mereka. 

Lalu  Bendahara  itu dan  istrinya  makan  sekenyang-kenyangnya.  Namun,  tetap kelihatan  kue-kue  itu  tidak  ada  habis-habisnya.  Bahkan  ketika semua  bhikkhu  dan  orang-orang  dari  luar  wihara  yang  memakan makanan  yang  disisakan  telah  mendapatkan  bagian  mereka, masih  belum  terlihat  tanda-tanda  bahwa  kue-kue  itu  akan  habis.

Mereka  kemudian  menyampaikan  hal  tersebut  kepada  Sang Guru,  “Bhante,  persediaan  kue-kue  itu  tetap  tidak  berkurang.”

“Kalau  begitu,  buanglah  kue-kue  itu  dekat  gerbang  utama wihara.”

Maka  mereka  membuang  kue-kue  itu  ke  dalam  gua  yang berada  tidak  jauh  dari  pintu  gerbang;  dan  hari  itu,  sebuah  tempat yang  disebut    “Kue Belanga” terlihat di ujung gua tersebut.

Tuan  Bendahara  Besar  dan  istrinya  menghampiri  dan berdiri  di  hadapan  Bhagawan,  yang  membalas  kemurahan  hati mereka  dengan  ucapan  terima  kasih;  dan  pada  akhir  ucapan terima  kasih  tersebut,  pasangan  itu  mencapai  Buah  Kesucian Pertama  Sotāpanna. 

Setelah  pamit  pada  Sang  Guru,  mereka berdua  menaiki  tangga  di  gerbang  utama  dan  menemukan mereka  telah  kembali  ke  rumah  mereka. 

Sejak  itu,  Tuan Bendahara  Besar  itu  banyak  memberikan  derma  dari kekayaannya  yang  berjumlah  delapan  ratus  juta  hanya  pada ajaran  Buddha  Yang Maha mulia. 

Untuk  memuji  Moggallana  Thera,  beliau  membacakan  syair berikut ini :

Bagaikan  seekor  lebah,  yang  tidak  merusak  wangi maupun  warna  bunga;  tetapi,  setelah  mengisap madunya,  lalu  terbang.  Demikianlah,  seyogianya Seorang  bhikkhu,  yang  mengembara  dari  satu  dusun  ke Dusun lainnya saat mengumpulkan derma.

setelah  meminta  keterangan,  mereka  menjelaskan  tentang  topik pembicaraan  mereka.  “Para  Bhikkhu,”  kata  beliau,  “seorang bhikkhu  yang  akan  meyakinkan  seorang  perumah  tangga, seyogianya  menghampiri  perumah  tangga  tersebut  tanpa membuatnya  merasa  terganggu  atau  jengkel,  seperti  lebah yang  mengisap  sari  bunga;  dengan  cara  itulah  seyogianya  ia menghampiri mereka

~ Jataka 1 ~





Omithofo...

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Ta Pei Cou dan Makna

Empat Golongan Nasib Manusia

Guang Ze Zun Wang