Bendahara Besar Yang Kikir
78. ILLĪSA-JĀTAKA
Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang Tuan Bendahara Besar yang kikir.
Di dekat Kota Rajagaha, terdapat sebuah kota yang bernama Gula Merah (Jagghery), dan di sini tinggallah seorang Tuan Bendahara Besar, yang dikenal sebagai Jutawan Kikir, yang mempunyai kekayaan sebesar delapan ratus juta.
Tidak lebih dari setetes kecil minyak yang diteteskan di atas sehelai rumput, seperti itulah kekayaan yang ia dermakan ataupun gunakan untuk kesenangannya sendiri. Maka semua kekayaannya tidak berguna baik untuk keluarganya maupun untuk para guru dan brahmana : harta itu dibiarkan tidak dinikmati, seperti kolam yang dijaga oleh siluman.
Suatu hari, Sang Guru bangun pada waktu subuh, dan digerakkan oleh rasa belas kasihan yang besar, (dengan kesaktiannya yang luar biasa,) saat mengamati mereka yang telah siap untuk menerima ajarannya di dunia ini, beliau mengetahui bahwa seorang Bendahara dan istrinya yang berada sekitar empat ratus mil jauhnya telah siap untuk mencapai kesucian Sotāpanna.
Sehari sebelumnya, Tuan Bendahara Besar itu pergi ke istana untuk bertemu dengan raja, dan dalam perjalanan pulang ke rumah, ia melihat seorang penduduk dusun yang tidak terpelajar, sedang makan sepotong kue yang diisi dengan bubur.
Pandangan sekilas itu membangkitkan keinginan yang sangat kuat untuk makan kue tersebut dalam dirinya. Tetapi, saat tiba di rumahnya, ia berpikir,
“Jika saya mengatakan saya menginginkan sepotong kue isi, semua orang akan meminta bagian atas makananku; hal itu berarti menghabiskan begitu banyak beras, gi, dan gula milikku. Saya tidak boleh mengatakan apa-apa pada siapa pun.”
Maka ia berjalan tanpa tujuan, berjuang melawan keinginannya yang begitu kuat. Jam demi jam berlalu, ia menjadi semakin pucat pasi, dan urat nadi di sekujur tubuhnya yang kurus tampak jelas. Tidak mampu menahan lebih lama lagi, akhirnya ia pergi ke kamarnya dan bertelungkup di tempat tidurnya. Namun, tidak sepatah kata pun yang ia ucapkan karena takut menghabiskan kekayaannya.
Istrinya menemuinya, mengusap punggunggnya, dan berkata;
“Ada masalah apa, Suamiku?”
“Tidak ada apa-apa,” katanya.
“Mungkinkah Raja marah kepadamu?”
“Tidak, Raja tidak marah.”
“Apakah anak-anak atau para pelayan kita melakukan sesuatu yang mengganggumu?”
“Bukan hal itu juga.”
“Baiklah, apakah kamu mengidamkan sesuatu?”
Namun, ia tetap bungkam, semua itu karena ketakutannya yang tidak masuk akal bahwa ia mungkin menghabiskan kekayaannya; ia tetap berbaring di tempat tidurnya tanpa mengatakan apa-apa.
“Katakanlah, Suamiku,” kata istrinya, “beritahukanlah apa yang engkau idamkan.”
“Ya,” katanya sambil menelan ludah, “saya mengidamkan sesuatu.”
“Dan apakah itu, Suamiku?”
“Saya ingin makan kue isi.”
“Lo, mengapa tidak mengatakannya sejak awal? Engkau kan cukup kaya. Saya akan masak kue yang cukup banyak untuk menjamu seluruh Kota Gula Merah.”
“Mengapa memusingkan mereka? Mereka harus bekerja untuk mendapatkan makanan mereka sendiri.”
“Baiklah, saya akan masak hanya cukup untuk orang-orang yang tinggal di jalan yang sama dengan kita.”
“Betapa kayanya engkau!”
“Kalau begitu, saya akan masak hanya cukup untuk semua anggota rumah tangga kita.”
“Betapa borosnya engkau!”
“Baiklah, saya akan masak hanya cukup untuk anak-anak kita.”
“Mengapa memikirkan mereka?”
“Baiklah kalau demikian, saya hanya akan sediakan untuk kita berdua.”
“Mengapa engkau harus ikut makan?”
“Kalau begitu, saya akan memasaknya sekali masak cukup hanya untuk engkau sendiri,” kata istrinya.
“Pelan-pelan,” kata Tuan Bendahara Besar itu, “ada banyak orang yang mengintai aktivitas masak-memasak di tempat ini. Pilih beras pecah, hati-hati untuk menyisakan beras utuh, bawa sebuah kompor arang, belanga, sedikit saja, susu, gi, madu, dan air gula; kemudian bawa semua itu bersamamu ke lantai tujuh rumah ini dan masaklah di sana, saya akan duduk di sana sendirian dan makan tanpa diganggu.”
Patuh pada perintah suaminya, istrinya membawa semua barang yang dibutuhkan, menaikkan semuanya seorang diri, menyuruh semua pelayannya pergi, dan menyuruh Bendahara itu naik.
Bendahara itu pun naik, menutup dan memalang pintu demi pintu yang ia lalui, hingga akhirnya tiba di lantai tujuh, pintu itu juga ia tutup dengan rapat. Lalu ia duduk.
Istrinya menyalakan api di kompor arang tersebut, meletakkan belanga di atasnya, dan mulai memasak kue itu.
Pagi-pagi Sang Guru berkata kepada Mahamoggallana Thera,
“Moggallana, Jutawan Kikir di Kota Gula Merah dekat Rajagaha, ingin makan kue seorang diri, begitu takut orang lain mengetahuinya, sehingga ia menyuruh agar kue itu dimasak untuk dirinya saja di lantai tujuh rumahnya. Pergilah ke sana; yakinkan agar ia mengorbankan kepentingannya, dan dengan kekuatan gaib angkutlah suami istri, kue, susu, gi, dan semuanya ke sini ke Jetawana. Hari ini, saya dan lima ratus orang bhikkhu akan tinggal di sini, dan saya akan menjadikan kue-kue yang disediakan mereka sebagai makanan.”
Patuh pada petunjuk Sang Guru, Moggallana Thera dengan daya supramanusia tiba di Kota Gula Merah, berhenti di tengah udara di depan jendela kamar itu, dengan jubah dalam dan jubah luar yang dikenakan sebagaimana mestinya, bersinar bagaikan patung yang dihiasi permata.
Penampakan diri Sang Thera yang tiba-tiba membuat Bendahara itu gemetar ketakutan.
Ia berpikir, “Untuk menghindari pengunjunglah maka saya naik ke sini; dan sekarang, datang salah seorang dari mereka di jendela.”
Gagal menyadari pemahaman yang perlu ia pahami, ia menggerutu dengan gusar, seperti gula dan garam yang dilemparkan ke api, ia keluar sambil berkata, “Guru, apa yang akan engkau dapatkan, dengan hanya berdiri di tengah udara? Oh, meskipun engkau bisa mondar-mandir hingga membentuk sebuah jalur di udara yang tidak berjalur, engkau tetap tidak akan mendapatkan apa pun.”
Sang Thera pun mulai mondar-mandir di udara.
“Apa yang akan engkau dapatkan dengan mondar-mandir di udara?” kata saudagar kaya itu, “Meskipun engkau bisa duduk bersila bermeditasi di udara, namun, engkau tetap tidak akan mendapatkan apa pun.”
Sang Thera pun duduk dengan kaki bersila di udara.
Lalu Bendahara itu berkata, “Apa yang akan engkau dapatkan dengan duduk di sana? Meskipun engkau bisa datang dan berdiri di ambang jendela; namun, engkau tetap tidak akan mendapatkan apa pun.”
Sang Thera pun berdiri di ambang jendela.
“Apa yang akan engkau dapatkan dengan berdiri di ambang jendela? Oh, meskipun engkau bisa menyemburkan asap, tetap tidak akan mendapatkan apa pun,” kata Bendahara itu.
Lalu Sang Thera pun menyemburkan asap tanpa henti hingga seluruh tempat itu dipenuhi asap.
Mata Bendahara itu mulai terasa sakit seakan-akan ditusuk dengan jarum; dan khawatir kalau akhirnya rumahnya akan terbakar, ia menambahkan, “Engkau tidak akan mendapatkan apa pun bahkan jika engkau terbakar.”
Ia berpikir, “Thera ini sangat keras hati. Ia tidak akan pergi dengan tangan kosong. Saya harus memberikan satu kue saja kepadanya.”
Maka ia berkata kepada istrinya, “Sayangku, masaklah satu potong kecil kue dan berikan pada guru itu agar kita bisa terbebas darinya.”
Maka istrinya mencampur sedikit adonan dalam belanga. Namun adonan itu terus bertambah banyak hingga memenuhi seluruh belanga itu, dan berkembang menjadi sebuah kue yang sangat besar.
“Pasti engkau telah menggunakan bahan yang banyak,” seru Bendahara itu saat melihatnya.
Dan ia sendiri dengan menggunakan ujung sendok mengambil secuil adonan itu, dan memasukkannya ke dalam tungku untuk dipanggang. Namun, secuil adonan yang diambilnya itu berkembang menjadi begitu besar.
Satu per satu, setiap adonan yang diambilnya berkembang menjadi begitu besar.
Dengan putus asa, akhirnya ia berkata kepada istrinya, “Berikan sepotong kue kepadanya, Sayang.”
Namun, saat ia mengambil sepotong kue dari keranjang, seketika itu juga kue-kue yang lain menempel pada kue itu. Maka ia berseru kepada suaminya bahwa semua kue itu menempel sekaligus, dan ia tidak bisa memisahkannya.
“Oh, saya akan segera pisahkan kue-kue itu,” kata Bendahara itu. Namun, ternyata ia tidak bisa melakukannya.
Lalu kedua suami istri itu memegang gumpalan besar kue itu di sudutnya, dan mencoba untuk memisahkannya. Namun, menarik sebisa mereka, mereka tidak bisa memberikan pengaruh lebih secara bersama, maka mereka lakukan secara terpisah terhadap gumpalan besar kue itu.
Saat saudagar kaya itu menarik kue-kue tersebut, ia dipenuhi oleh keringat, dan keinginannya untuk memakan kue itu sirna.
Lalu ia berkata kepada istrinya, “Saya tidak menginginkan kue-kue itu lagi; berikan kue-kue itu, keranjang, dan semuanya kepada petapa ini.”
Istrinya menghampiri Sang Thera dengan keranjang di tangannya.
Lalu Sang Thera mewejang Dhamma kepada pasangan tersebut, dan memberitahukan kemuliaan Ti Ratana (Buddha, Dhamma, dan Sanggha). Mengajarkan bahwa dengan memberikan derma secara benar, ia membuat hasil dari pemberian derma dan kebajikan-kebajikan lainnya bersinar laksana bulan purnama di langit.
Merasa senang setelah mendengar kata-kata Sang Thera, Bendahara itu berkata, “Bhante, datanglah ke sini dan duduklah di dipan ini untuk makan kue.”
“Tuan Bendahara Besar,” kata Sang Thera, “Buddha Yang Maha bijaksana bersama lima ratus orang bhikkhu sedang duduk di wihara menunggu makanan kue ini. Jika ini memberikan kegembiraan kepada Anda, saya akan meminta Anda membawa istri dan kue-kue itu bersamamu, dan kita pergi menghadap Sang Guru.”
“Namun Bhante, di manakah Sang Guru berada saat ini?”
“Empat puluh lima yojana dari sini, di wihara di Jetawana.”
“Bagaimana cara kita semua pergi ke sana, Bhante, tanpa kehilangan waktu yang lama dalam perjalanan?”
“Jika ini memberikan kegembiraan kepada Anda, Tuan Bendahara Besar, saya akan membawa kalian ke sana dengan kekuatan gaibku. Puncak tangga rumahmu akan tetap berada di tempatnya, namun bagian bawahnya akan berada di gerbang utama Jetawana. Dengan cara inilah saya akan membawa kalian menghadap Sang Guru, saat tiba di bawah.”
“Kalau begitu, lakukanlah, Bhante,” kata Bendahara itu.
Lalu Sang Thera membiarkan puncak tangga tetap berada di tempatnya, memerintahkan, “Jadilah kaki tangga rumah ini berada di gerbang utama Jetawana.” Dan itulah yang terjadi. Dengan cara demikian Sang Thera membawa Bendahara dan istrinya ke Jetawana, lebih cepat dari waktu yang mereka butuhkan untuk menuruni tangga.
Lalu suami istri itu menghadap Sang Guru dan mengatakan bahwa waktu makan telah tiba.
Sang Guru masuk ke dalam ruang makan, dan duduk di tempat duduk Buddha yang telah dipersiapkan untuknya, dengan Bhikkhu Sanggha berada di sekelilingnya.
Lalu Tuan Bendahara Besar menuangkan air derma ke tangan Buddha Yang Mahamulia yang mengepalai Bhikkhu Sanggha, sementara istrinya memasukkan sepotong kue ke dalam patta Bhagava. Dengan ini, Beliau mengambil apa yang dibutuhkan untuk menyokong hidupnya, demikian juga dengan kelima ratus orang bhikkhu itu.
Selanjutnya, Bendahara itu berkeliling memberikan susu yang dicampur dengan gi, madu, dan gula merah.
Sang Guru dan para bhikkhu menyudahi acara makan mereka.
Lalu Bendahara itu dan istrinya makan sekenyang-kenyangnya. Namun, tetap kelihatan kue-kue itu tidak ada habis-habisnya. Bahkan ketika semua bhikkhu dan orang-orang dari luar wihara yang memakan makanan yang disisakan telah mendapatkan bagian mereka, masih belum terlihat tanda-tanda bahwa kue-kue itu akan habis.
Mereka kemudian menyampaikan hal tersebut kepada Sang Guru, “Bhante, persediaan kue-kue itu tetap tidak berkurang.”
“Kalau begitu, buanglah kue-kue itu dekat gerbang utama wihara.”
Maka mereka membuang kue-kue itu ke dalam gua yang berada tidak jauh dari pintu gerbang; dan hari itu, sebuah tempat yang disebut “Kue Belanga” terlihat di ujung gua tersebut.
Tuan Bendahara Besar dan istrinya menghampiri dan berdiri di hadapan Bhagawan, yang membalas kemurahan hati mereka dengan ucapan terima kasih; dan pada akhir ucapan terima kasih tersebut, pasangan itu mencapai Buah Kesucian Pertama Sotāpanna.
Setelah pamit pada Sang Guru, mereka berdua menaiki tangga di gerbang utama dan menemukan mereka telah kembali ke rumah mereka.
Sejak itu, Tuan Bendahara Besar itu banyak memberikan derma dari kekayaannya yang berjumlah delapan ratus juta hanya pada ajaran Buddha Yang Maha mulia.
Untuk memuji Moggallana Thera, beliau membacakan syair berikut ini :
Bagaikan seekor lebah, yang tidak merusak wangi maupun warna bunga; tetapi, setelah mengisap madunya, lalu terbang. Demikianlah, seyogianya Seorang bhikkhu, yang mengembara dari satu dusun ke Dusun lainnya saat mengumpulkan derma.
setelah meminta keterangan, mereka menjelaskan tentang topik pembicaraan mereka. “Para Bhikkhu,” kata beliau, “seorang bhikkhu yang akan meyakinkan seorang perumah tangga, seyogianya menghampiri perumah tangga tersebut tanpa membuatnya merasa terganggu atau jengkel, seperti lebah yang mengisap sari bunga; dengan cara itulah seyogianya ia menghampiri mereka
~ Jataka 1 ~
Omithofo...
Kisah ini diceritakan oleh Sang Guru ketika berada di Jetawana, mengenai seorang Tuan Bendahara Besar yang kikir.
Di dekat Kota Rajagaha, terdapat sebuah kota yang bernama Gula Merah (Jagghery), dan di sini tinggallah seorang Tuan Bendahara Besar, yang dikenal sebagai Jutawan Kikir, yang mempunyai kekayaan sebesar delapan ratus juta.
Tidak lebih dari setetes kecil minyak yang diteteskan di atas sehelai rumput, seperti itulah kekayaan yang ia dermakan ataupun gunakan untuk kesenangannya sendiri. Maka semua kekayaannya tidak berguna baik untuk keluarganya maupun untuk para guru dan brahmana : harta itu dibiarkan tidak dinikmati, seperti kolam yang dijaga oleh siluman.
Suatu hari, Sang Guru bangun pada waktu subuh, dan digerakkan oleh rasa belas kasihan yang besar, (dengan kesaktiannya yang luar biasa,) saat mengamati mereka yang telah siap untuk menerima ajarannya di dunia ini, beliau mengetahui bahwa seorang Bendahara dan istrinya yang berada sekitar empat ratus mil jauhnya telah siap untuk mencapai kesucian Sotāpanna.
Sehari sebelumnya, Tuan Bendahara Besar itu pergi ke istana untuk bertemu dengan raja, dan dalam perjalanan pulang ke rumah, ia melihat seorang penduduk dusun yang tidak terpelajar, sedang makan sepotong kue yang diisi dengan bubur.
Pandangan sekilas itu membangkitkan keinginan yang sangat kuat untuk makan kue tersebut dalam dirinya. Tetapi, saat tiba di rumahnya, ia berpikir,
“Jika saya mengatakan saya menginginkan sepotong kue isi, semua orang akan meminta bagian atas makananku; hal itu berarti menghabiskan begitu banyak beras, gi, dan gula milikku. Saya tidak boleh mengatakan apa-apa pada siapa pun.”
Maka ia berjalan tanpa tujuan, berjuang melawan keinginannya yang begitu kuat. Jam demi jam berlalu, ia menjadi semakin pucat pasi, dan urat nadi di sekujur tubuhnya yang kurus tampak jelas. Tidak mampu menahan lebih lama lagi, akhirnya ia pergi ke kamarnya dan bertelungkup di tempat tidurnya. Namun, tidak sepatah kata pun yang ia ucapkan karena takut menghabiskan kekayaannya.
Istrinya menemuinya, mengusap punggunggnya, dan berkata;
“Ada masalah apa, Suamiku?”
“Tidak ada apa-apa,” katanya.
“Mungkinkah Raja marah kepadamu?”
“Tidak, Raja tidak marah.”
“Apakah anak-anak atau para pelayan kita melakukan sesuatu yang mengganggumu?”
“Bukan hal itu juga.”
“Baiklah, apakah kamu mengidamkan sesuatu?”
Namun, ia tetap bungkam, semua itu karena ketakutannya yang tidak masuk akal bahwa ia mungkin menghabiskan kekayaannya; ia tetap berbaring di tempat tidurnya tanpa mengatakan apa-apa.
“Katakanlah, Suamiku,” kata istrinya, “beritahukanlah apa yang engkau idamkan.”
“Ya,” katanya sambil menelan ludah, “saya mengidamkan sesuatu.”
“Dan apakah itu, Suamiku?”
“Saya ingin makan kue isi.”
“Lo, mengapa tidak mengatakannya sejak awal? Engkau kan cukup kaya. Saya akan masak kue yang cukup banyak untuk menjamu seluruh Kota Gula Merah.”
“Mengapa memusingkan mereka? Mereka harus bekerja untuk mendapatkan makanan mereka sendiri.”
“Baiklah, saya akan masak hanya cukup untuk orang-orang yang tinggal di jalan yang sama dengan kita.”
“Betapa kayanya engkau!”
“Kalau begitu, saya akan masak hanya cukup untuk semua anggota rumah tangga kita.”
“Betapa borosnya engkau!”
“Baiklah, saya akan masak hanya cukup untuk anak-anak kita.”
“Mengapa memikirkan mereka?”
“Baiklah kalau demikian, saya hanya akan sediakan untuk kita berdua.”
“Mengapa engkau harus ikut makan?”
“Kalau begitu, saya akan memasaknya sekali masak cukup hanya untuk engkau sendiri,” kata istrinya.
“Pelan-pelan,” kata Tuan Bendahara Besar itu, “ada banyak orang yang mengintai aktivitas masak-memasak di tempat ini. Pilih beras pecah, hati-hati untuk menyisakan beras utuh, bawa sebuah kompor arang, belanga, sedikit saja, susu, gi, madu, dan air gula; kemudian bawa semua itu bersamamu ke lantai tujuh rumah ini dan masaklah di sana, saya akan duduk di sana sendirian dan makan tanpa diganggu.”
Patuh pada perintah suaminya, istrinya membawa semua barang yang dibutuhkan, menaikkan semuanya seorang diri, menyuruh semua pelayannya pergi, dan menyuruh Bendahara itu naik.
Bendahara itu pun naik, menutup dan memalang pintu demi pintu yang ia lalui, hingga akhirnya tiba di lantai tujuh, pintu itu juga ia tutup dengan rapat. Lalu ia duduk.
Istrinya menyalakan api di kompor arang tersebut, meletakkan belanga di atasnya, dan mulai memasak kue itu.
Pagi-pagi Sang Guru berkata kepada Mahamoggallana Thera,
“Moggallana, Jutawan Kikir di Kota Gula Merah dekat Rajagaha, ingin makan kue seorang diri, begitu takut orang lain mengetahuinya, sehingga ia menyuruh agar kue itu dimasak untuk dirinya saja di lantai tujuh rumahnya. Pergilah ke sana; yakinkan agar ia mengorbankan kepentingannya, dan dengan kekuatan gaib angkutlah suami istri, kue, susu, gi, dan semuanya ke sini ke Jetawana. Hari ini, saya dan lima ratus orang bhikkhu akan tinggal di sini, dan saya akan menjadikan kue-kue yang disediakan mereka sebagai makanan.”
Patuh pada petunjuk Sang Guru, Moggallana Thera dengan daya supramanusia tiba di Kota Gula Merah, berhenti di tengah udara di depan jendela kamar itu, dengan jubah dalam dan jubah luar yang dikenakan sebagaimana mestinya, bersinar bagaikan patung yang dihiasi permata.
Penampakan diri Sang Thera yang tiba-tiba membuat Bendahara itu gemetar ketakutan.
Ia berpikir, “Untuk menghindari pengunjunglah maka saya naik ke sini; dan sekarang, datang salah seorang dari mereka di jendela.”
Gagal menyadari pemahaman yang perlu ia pahami, ia menggerutu dengan gusar, seperti gula dan garam yang dilemparkan ke api, ia keluar sambil berkata, “Guru, apa yang akan engkau dapatkan, dengan hanya berdiri di tengah udara? Oh, meskipun engkau bisa mondar-mandir hingga membentuk sebuah jalur di udara yang tidak berjalur, engkau tetap tidak akan mendapatkan apa pun.”
Sang Thera pun mulai mondar-mandir di udara.
“Apa yang akan engkau dapatkan dengan mondar-mandir di udara?” kata saudagar kaya itu, “Meskipun engkau bisa duduk bersila bermeditasi di udara, namun, engkau tetap tidak akan mendapatkan apa pun.”
Sang Thera pun duduk dengan kaki bersila di udara.
Lalu Bendahara itu berkata, “Apa yang akan engkau dapatkan dengan duduk di sana? Meskipun engkau bisa datang dan berdiri di ambang jendela; namun, engkau tetap tidak akan mendapatkan apa pun.”
Sang Thera pun berdiri di ambang jendela.
“Apa yang akan engkau dapatkan dengan berdiri di ambang jendela? Oh, meskipun engkau bisa menyemburkan asap, tetap tidak akan mendapatkan apa pun,” kata Bendahara itu.
Lalu Sang Thera pun menyemburkan asap tanpa henti hingga seluruh tempat itu dipenuhi asap.
Mata Bendahara itu mulai terasa sakit seakan-akan ditusuk dengan jarum; dan khawatir kalau akhirnya rumahnya akan terbakar, ia menambahkan, “Engkau tidak akan mendapatkan apa pun bahkan jika engkau terbakar.”
Ia berpikir, “Thera ini sangat keras hati. Ia tidak akan pergi dengan tangan kosong. Saya harus memberikan satu kue saja kepadanya.”
Maka ia berkata kepada istrinya, “Sayangku, masaklah satu potong kecil kue dan berikan pada guru itu agar kita bisa terbebas darinya.”
Maka istrinya mencampur sedikit adonan dalam belanga. Namun adonan itu terus bertambah banyak hingga memenuhi seluruh belanga itu, dan berkembang menjadi sebuah kue yang sangat besar.
“Pasti engkau telah menggunakan bahan yang banyak,” seru Bendahara itu saat melihatnya.
Dan ia sendiri dengan menggunakan ujung sendok mengambil secuil adonan itu, dan memasukkannya ke dalam tungku untuk dipanggang. Namun, secuil adonan yang diambilnya itu berkembang menjadi begitu besar.
Satu per satu, setiap adonan yang diambilnya berkembang menjadi begitu besar.
Dengan putus asa, akhirnya ia berkata kepada istrinya, “Berikan sepotong kue kepadanya, Sayang.”
Namun, saat ia mengambil sepotong kue dari keranjang, seketika itu juga kue-kue yang lain menempel pada kue itu. Maka ia berseru kepada suaminya bahwa semua kue itu menempel sekaligus, dan ia tidak bisa memisahkannya.
“Oh, saya akan segera pisahkan kue-kue itu,” kata Bendahara itu. Namun, ternyata ia tidak bisa melakukannya.
Lalu kedua suami istri itu memegang gumpalan besar kue itu di sudutnya, dan mencoba untuk memisahkannya. Namun, menarik sebisa mereka, mereka tidak bisa memberikan pengaruh lebih secara bersama, maka mereka lakukan secara terpisah terhadap gumpalan besar kue itu.
Saat saudagar kaya itu menarik kue-kue tersebut, ia dipenuhi oleh keringat, dan keinginannya untuk memakan kue itu sirna.
Lalu ia berkata kepada istrinya, “Saya tidak menginginkan kue-kue itu lagi; berikan kue-kue itu, keranjang, dan semuanya kepada petapa ini.”
Istrinya menghampiri Sang Thera dengan keranjang di tangannya.
Lalu Sang Thera mewejang Dhamma kepada pasangan tersebut, dan memberitahukan kemuliaan Ti Ratana (Buddha, Dhamma, dan Sanggha). Mengajarkan bahwa dengan memberikan derma secara benar, ia membuat hasil dari pemberian derma dan kebajikan-kebajikan lainnya bersinar laksana bulan purnama di langit.
Merasa senang setelah mendengar kata-kata Sang Thera, Bendahara itu berkata, “Bhante, datanglah ke sini dan duduklah di dipan ini untuk makan kue.”
“Tuan Bendahara Besar,” kata Sang Thera, “Buddha Yang Maha bijaksana bersama lima ratus orang bhikkhu sedang duduk di wihara menunggu makanan kue ini. Jika ini memberikan kegembiraan kepada Anda, saya akan meminta Anda membawa istri dan kue-kue itu bersamamu, dan kita pergi menghadap Sang Guru.”
“Namun Bhante, di manakah Sang Guru berada saat ini?”
“Empat puluh lima yojana dari sini, di wihara di Jetawana.”
“Bagaimana cara kita semua pergi ke sana, Bhante, tanpa kehilangan waktu yang lama dalam perjalanan?”
“Jika ini memberikan kegembiraan kepada Anda, Tuan Bendahara Besar, saya akan membawa kalian ke sana dengan kekuatan gaibku. Puncak tangga rumahmu akan tetap berada di tempatnya, namun bagian bawahnya akan berada di gerbang utama Jetawana. Dengan cara inilah saya akan membawa kalian menghadap Sang Guru, saat tiba di bawah.”
“Kalau begitu, lakukanlah, Bhante,” kata Bendahara itu.
Lalu Sang Thera membiarkan puncak tangga tetap berada di tempatnya, memerintahkan, “Jadilah kaki tangga rumah ini berada di gerbang utama Jetawana.” Dan itulah yang terjadi. Dengan cara demikian Sang Thera membawa Bendahara dan istrinya ke Jetawana, lebih cepat dari waktu yang mereka butuhkan untuk menuruni tangga.
Lalu suami istri itu menghadap Sang Guru dan mengatakan bahwa waktu makan telah tiba.
Sang Guru masuk ke dalam ruang makan, dan duduk di tempat duduk Buddha yang telah dipersiapkan untuknya, dengan Bhikkhu Sanggha berada di sekelilingnya.
Lalu Tuan Bendahara Besar menuangkan air derma ke tangan Buddha Yang Mahamulia yang mengepalai Bhikkhu Sanggha, sementara istrinya memasukkan sepotong kue ke dalam patta Bhagava. Dengan ini, Beliau mengambil apa yang dibutuhkan untuk menyokong hidupnya, demikian juga dengan kelima ratus orang bhikkhu itu.
Selanjutnya, Bendahara itu berkeliling memberikan susu yang dicampur dengan gi, madu, dan gula merah.
Sang Guru dan para bhikkhu menyudahi acara makan mereka.
Lalu Bendahara itu dan istrinya makan sekenyang-kenyangnya. Namun, tetap kelihatan kue-kue itu tidak ada habis-habisnya. Bahkan ketika semua bhikkhu dan orang-orang dari luar wihara yang memakan makanan yang disisakan telah mendapatkan bagian mereka, masih belum terlihat tanda-tanda bahwa kue-kue itu akan habis.
Mereka kemudian menyampaikan hal tersebut kepada Sang Guru, “Bhante, persediaan kue-kue itu tetap tidak berkurang.”
“Kalau begitu, buanglah kue-kue itu dekat gerbang utama wihara.”
Maka mereka membuang kue-kue itu ke dalam gua yang berada tidak jauh dari pintu gerbang; dan hari itu, sebuah tempat yang disebut “Kue Belanga” terlihat di ujung gua tersebut.
Tuan Bendahara Besar dan istrinya menghampiri dan berdiri di hadapan Bhagawan, yang membalas kemurahan hati mereka dengan ucapan terima kasih; dan pada akhir ucapan terima kasih tersebut, pasangan itu mencapai Buah Kesucian Pertama Sotāpanna.
Setelah pamit pada Sang Guru, mereka berdua menaiki tangga di gerbang utama dan menemukan mereka telah kembali ke rumah mereka.
Sejak itu, Tuan Bendahara Besar itu banyak memberikan derma dari kekayaannya yang berjumlah delapan ratus juta hanya pada ajaran Buddha Yang Maha mulia.
Untuk memuji Moggallana Thera, beliau membacakan syair berikut ini :
Bagaikan seekor lebah, yang tidak merusak wangi maupun warna bunga; tetapi, setelah mengisap madunya, lalu terbang. Demikianlah, seyogianya Seorang bhikkhu, yang mengembara dari satu dusun ke Dusun lainnya saat mengumpulkan derma.
setelah meminta keterangan, mereka menjelaskan tentang topik pembicaraan mereka. “Para Bhikkhu,” kata beliau, “seorang bhikkhu yang akan meyakinkan seorang perumah tangga, seyogianya menghampiri perumah tangga tersebut tanpa membuatnya merasa terganggu atau jengkel, seperti lebah yang mengisap sari bunga; dengan cara itulah seyogianya ia menghampiri mereka
~ Jataka 1 ~
Omithofo...

Komentar
Posting Komentar