Bao Sheng Da Di
BAO SHENG DA DI / 保生大帝
Bao Sheng Da Di, Bao Sheng Da Di (Po Seng Tay Tee-Hokkian) adalah seorang dewa yang sangat populer, terutama di propinsi Fujian, Guangdong dan Taiwan Pemujaan terhadapnya juga meluas ke Asia Tenggara terutama Malaysia,Singapura dan Indonesia.
Secara umum Bao Sheng Da Di disebut Da Dao Gong (Tao Too Kong- Hokkian), Hua Qiao Gong (Hoa Kio Kong - Hokkian) atau yang lebih terkenal adalah sebutani Wu Zhen-ren (Go Cin Djin - Hokkian) yang berarti Dewa Wu. Siapa sesungguhnya Wu Zhen-ren ini, ada dua pendapat yang sama-sama mempunyai dasar. Pendapat pertama mengatakan bahwa Wu Zhen-ren mempunyai nama asli, Ben (Pun-Hokkian), Wu Ben adalah seorang yang dilahirkan di desa Baijiao (secara harfiah berarti Karang Putih) kabupaten Tong-an, wilayah Quan-zhou (Coan-ciu-Hokkian) propinsi Fujian. Ia lahir pada pemerintahan Kaisar Tai Zong, tahun Xing-guo keempat bulan tiga tanggal 15 Imlik pada jaman Dinasti Song.
Sejak masih kecil Wu Ben sudah tertarik pada masalah pengobatan. Seorang pertapa sakti karena tertarik akan bakat anak ini, mengajarkan bermacam-macam akan ilmu pengobatan dan rnemberikan kitab yang berisi kumpulan obat-obat mujarab. Ia juga rnemberikan beberapa macam ilmu kesaktian untuk mengusir iblis dan menaklukkan roh-roh jahat dengan menulis "fu" (Hu - Hokkian). Setelah dewasa, ia terkenal sebagai seorang tabib dewa. Ia pemah mengikuti ujian sastra dan lulus. Kemudian ia memangku jabatan sebagai Yu-shi, semacam jabatan di istana yang mengurus pencatatan sejarah.
Nama Wu Ben menjadi termasyur setelah dia berhasil mengobati penyakit yang diderita permaisuri Kaisar Ren Zong Setelah mengundurkan diri Wu Ben berkelana mengobati penyakit dan kadang - kadang menunjukkan kesaktiannya untuk menolong orang yang sedang menderita. Orang-orang sangat memujanya. Kemudian Wu Ben mendidik beberapa murid antara lain Huang Yi-guan (Huang Si Menteri Tabib), Cheng Zhen-ren (Thia Cin-jin - Hokkian) atau Cheng si manusia dewa dan Yin Xian-gu (Yin si Dewi). Konon Wu Ben meminjam pengawal Xuan Tian Shang Di, yaitu jenderal Zhao (Zhao Gong Ming) dan jenderal Kang, sebagai pengawal pribadinya. Bersama - sama, mereka berkelana mengadakan pengobatan dan mengusir iblis. Beliau pernah mengarang buku yang berisi ilmu pengobatan untuk penyakit dalam dan luar sebanyak 13 jilid. Pada masa pemerintahan Kaisar Ren Zong, tahun Jing You ke-3 tanggal 2 bulan 5 Imlik, beliau beserta ayah ibunya, adik perempuan dan ipamya, serta kedua pengiringnya dan pelayan, bersama-sama naik bangau putih terbang ke langit. Saat itu beliau berusia 58 tahun. Rakyat, karena mengingat budinya banyak yang banyak mendirikan kuil peringatan dan diberi nama Ci Ji Gong (Cu Ce Kiong - Hokkian)-yang berarti "kuil Penolongyang welas asih". Walaupun telah naik ke langit, beliau sering menampakkan diri dan melanjutkan perbuatan-perbuatan mulia yang pernah dilakukannya seperti menolong orang yang dimndung malang, menumpas penjahat-penjahat yang mengganggu keamanan dan mengobati orang-orang yang sakiL Orang yang telah menerima budi dan pertolongannya banyak sekali jumlahnya. Para kaisar juga. tak ketinggalan menganugerahkan gelar kepadanya. Kaisar Song Gao Zong menganugerahkan gelar Da Dao Zhen-ren (ToaToo Cin-jin - Hokkian) yang berarti "Dewa jalan nan agung". Gelar ini menyebabkan Bao Sheng Da Di populer dengan sebuatan Da Dao Gong (Toa To Kong - Hokkian) yang berarti "paduka jalan nan agung". Kaisar Song Ning Zong memberikan gelar kehormatan Zhong Xian Hou (Tiong Hian Hoo - Hokkian) yang berarti „Pangeran teladan kesetiaan". Kaisar Dinasti Ming yang pertama Ming Tai Zu memberikan gelar Hao Tian Yu Shi Yi Ling Zhen Jun (Ho Thian Gi Su It Leng Cin Kun - Hokkian) yang berarti Dewa sejati ahli pengobatan dan menteri pencatat sejarah *#
dikutip dari buku Dewa Dewi Kelenteng hal 235 - 236.
.
Pendapat yang satu lagi pengatakan bahwa Bao Sheng Da Di atau Wu
Zhen-ren (Go Cin-jin-Hokkian) adalah Wu Meng yang hidup pada jaman Dinasti Jin (265 - 420 M), penduduk asli dari Henan. Wu Meng (Go Beng-Hokkian) sejak kecil terkenal karena baktinya kepada orang tua. Setelah dewasa ia berkelana dan melakukan pengobatan kepada penduduk yang tidak mampu dan mengusir roh jahat dan iblis pengganggu ketentraman dengan ilmu yang dimilikinya. Akhir-akhir ini ia dipanggil dengan nama Wu Zhen-jun (Go Cin-kun - Hokkian) atau Wu-si dewa sejati. Kalau ditinjau dan sudut sejarah, nama Wu Meng memang lebih terkenal dari pada Wu Ben, sebab Wu Ben meskipun mempunyai reputasi sebagai tabib yang hebat, tapi dia hanya dipuja di sekitar propinsi Fujian saja. Tapi kalau kita meninjau dari tempat asalnya, Wu Ben lebih mendekati kenyataan, karena di propinsi Fujian (Hokkian) Wu Ben dipuja sebagai Bao Sheng Da Di. Kuil Bao Sheng Da Di di propinsi ini yang terkenal atau terbesar terdapat di dusun Bai Jiao. kabupaten Tong An, tempat Wu Ben berasal. Di kuil itu terdapat papan yang dihadiahkan oleh Kaisar Yong Le dari Dinasti Ming.
Kisah - kisah dikalangan rakyat tentang kehebatan Wu Ben memang banyak beredar, terutama di propinsi Fujian dan sekitarnya. Diceritakan pada suatu hari dalam perkelanaannya menjalankan kebajikan, sampailah ia disebuah jalan pegunungan. Ia beijumpa dengan 4 orang menggotong sebuah peti jenasah. Peti jenasah itu sederhana sekali dan terbuat dari papan kayu yang sudah lapuk, menandakan bahwa keluarga si mati adalah keluarga yang melarat. Darah nampak mengalir dari celab - celah peti mati itu, menandakan bahwa orang dalam peti itu belum lama meninggal. Wu Ben melihat itu lalu mengerutkan keningnya, ia yakin bahwa yang ada di dalam peti mati itu pasti belum mati. Ia meminta para penggotong supaya berhenti dan bersedia membuka tutup peti itu. Seorang wanita nampaknya tergeletak di dalamnya dan usianya sekitar 30 tahun. Sekilas Wu Ben iahu, bahwa ia baru saja melahirkan dan mengalami pendarahan. Wu Ben minta bantuan para pelayat agar wanita itu diangkat keluar dari peti dan dibaringkan di bawah sebuah pohon yang rindang di tepi jalan. Setelah diperiksa seksama,Wu Ben tahu bahwa wanita tersebut masih dapat ditolong. Setelah dirawat dengan seksama akhirnya beberapa hari kemudian perempuan yang sudah di anggap mati itu, menjadi sehat kembali. Kejadian ini tersebar dari mulut kemulut dan meluas kesegenap pelosok negeri. Semua mengatakan bahwaWu Ben dapat menghidupkan orang mati. Ketenarannya sampai di telinga Kaisar Ren Zong di ibukota masa itu, Kai-feng. Song Ren Zong pada waktu itu resah karena permaisurinya sedang sakit dan sudah banyak tabib tersohoryang didatangkan, tetapi penyakit tak kunjung sembuh. Tanpa memperdulikan jarak jauh, Wu Ben datang ai istana untuk memenuhi panggilan kaisar. Karena kebiasaan pada waktu itu, yang melarang orang awam menyentuh tubuh kaisar maupun keluarganya, maka Wu Ben memeriksa denyut nadi permaisuri dengan perantaraan seutas tali sutera yang diikat pada pergelangan tangannya. Setelah yakin akan penyakit apa yang diderita sang permaisuri, Wu Ben menulis resep dokter. Berkat obat itulah, tak lama kemudian sang permaisuri sembuh kembali. Ketika kaisar menanyakan pada Wu Ben hadiah apa yang diinginkannya, ia menginginkan jubah kebesaran yang pernah dipakai oleh ayahda kaisar. Sebagai orang yang bijaksana Song Ren Zong mengabulkan permintaan Wu Ben memakai baju kebesaran ayahdanya. Kaisar Ren Zong lalu berlutut. Wu Ben buru-buru mencegah dan menolak kehormatan itu. Sejak itulah Wu Ben dikenal sebaga Bao Sheng Da Di atau Maharaja Pelindung Kehidupan. Kisah yang beredar dari mulut ke mulut sampai sekarang ini kami dengar dari penuturan sesepuh Kelenteng Tay Kak Sie, Semarang, di mana Bao Sheng Da Di dipuja.
Belakangan dipuja pula Wu Meng dan Wu Ben bersama-sama, Wu Ben sebagai Bao Sheng Da Di sedangkan Wu Meng sebagai Shen Lie Zhen Ren (Sin Liat Cin Jin - Hokkian).
Bao Sheng Da Di dipuja tidak hanya sebagai dewa pengobatan, tetapi juga dianggap sebagai dewa pelindung masyarakat yang berasal dari Quan-zhou.
Bersama dengan menyebamya imigran dari Quan-zhouitu, pemujaan terhadap Bao Sheng Da Di tersebar ke Taiwan, lalu ke Asia Tenggara. Di Taiwan,karena imigran dari Quanzhou ini banyak jumlahnya, maka kelenteng yang memuja Bao Sheng Da Di atau Da Dao Gong ini terdapat di mana-mana.Yang tertua adalah yang didirikan pada jaman Dinasti Ming, pada masa pemerintahan Kaisar Wan Li yaitu Kai Shan Gong (Khai San Kiong -Hokkian). Masih ada juga yang lebih besar yaitu Xing Ji Gong, Yuan He Gong, Liang Huang Gong, Fu Long Gong, Guang Ji Gong, Miao Shou Gong dan lain-lain. Di Singapura pemujaan Bao Sheng Da Di terdapat di Kelenteng Han Fu Gong (Thian Hok Keng - Hokkian) di Telok-ayer Street Di Kelenteng Tay Ka Sie, Semarang, baru dimulai pada tahun 1860 atas prakarsa seorang pedagang besar pada waktu itu, Gan Kang Siu, yang mendatangkan patung Da Dao Gong dari Tiongkok,
dikutip dari buku Dewa Dewi Kelenteng hal 238 - 239.
Omithofo...
Bao Sheng Da Di, Bao Sheng Da Di (Po Seng Tay Tee-Hokkian) adalah seorang dewa yang sangat populer, terutama di propinsi Fujian, Guangdong dan Taiwan Pemujaan terhadapnya juga meluas ke Asia Tenggara terutama Malaysia,Singapura dan Indonesia.
Secara umum Bao Sheng Da Di disebut Da Dao Gong (Tao Too Kong- Hokkian), Hua Qiao Gong (Hoa Kio Kong - Hokkian) atau yang lebih terkenal adalah sebutani Wu Zhen-ren (Go Cin Djin - Hokkian) yang berarti Dewa Wu. Siapa sesungguhnya Wu Zhen-ren ini, ada dua pendapat yang sama-sama mempunyai dasar. Pendapat pertama mengatakan bahwa Wu Zhen-ren mempunyai nama asli, Ben (Pun-Hokkian), Wu Ben adalah seorang yang dilahirkan di desa Baijiao (secara harfiah berarti Karang Putih) kabupaten Tong-an, wilayah Quan-zhou (Coan-ciu-Hokkian) propinsi Fujian. Ia lahir pada pemerintahan Kaisar Tai Zong, tahun Xing-guo keempat bulan tiga tanggal 15 Imlik pada jaman Dinasti Song.
Sejak masih kecil Wu Ben sudah tertarik pada masalah pengobatan. Seorang pertapa sakti karena tertarik akan bakat anak ini, mengajarkan bermacam-macam akan ilmu pengobatan dan rnemberikan kitab yang berisi kumpulan obat-obat mujarab. Ia juga rnemberikan beberapa macam ilmu kesaktian untuk mengusir iblis dan menaklukkan roh-roh jahat dengan menulis "fu" (Hu - Hokkian). Setelah dewasa, ia terkenal sebagai seorang tabib dewa. Ia pemah mengikuti ujian sastra dan lulus. Kemudian ia memangku jabatan sebagai Yu-shi, semacam jabatan di istana yang mengurus pencatatan sejarah.
Nama Wu Ben menjadi termasyur setelah dia berhasil mengobati penyakit yang diderita permaisuri Kaisar Ren Zong Setelah mengundurkan diri Wu Ben berkelana mengobati penyakit dan kadang - kadang menunjukkan kesaktiannya untuk menolong orang yang sedang menderita. Orang-orang sangat memujanya. Kemudian Wu Ben mendidik beberapa murid antara lain Huang Yi-guan (Huang Si Menteri Tabib), Cheng Zhen-ren (Thia Cin-jin - Hokkian) atau Cheng si manusia dewa dan Yin Xian-gu (Yin si Dewi). Konon Wu Ben meminjam pengawal Xuan Tian Shang Di, yaitu jenderal Zhao (Zhao Gong Ming) dan jenderal Kang, sebagai pengawal pribadinya. Bersama - sama, mereka berkelana mengadakan pengobatan dan mengusir iblis. Beliau pernah mengarang buku yang berisi ilmu pengobatan untuk penyakit dalam dan luar sebanyak 13 jilid. Pada masa pemerintahan Kaisar Ren Zong, tahun Jing You ke-3 tanggal 2 bulan 5 Imlik, beliau beserta ayah ibunya, adik perempuan dan ipamya, serta kedua pengiringnya dan pelayan, bersama-sama naik bangau putih terbang ke langit. Saat itu beliau berusia 58 tahun. Rakyat, karena mengingat budinya banyak yang banyak mendirikan kuil peringatan dan diberi nama Ci Ji Gong (Cu Ce Kiong - Hokkian)-yang berarti "kuil Penolongyang welas asih". Walaupun telah naik ke langit, beliau sering menampakkan diri dan melanjutkan perbuatan-perbuatan mulia yang pernah dilakukannya seperti menolong orang yang dimndung malang, menumpas penjahat-penjahat yang mengganggu keamanan dan mengobati orang-orang yang sakiL Orang yang telah menerima budi dan pertolongannya banyak sekali jumlahnya. Para kaisar juga. tak ketinggalan menganugerahkan gelar kepadanya. Kaisar Song Gao Zong menganugerahkan gelar Da Dao Zhen-ren (ToaToo Cin-jin - Hokkian) yang berarti "Dewa jalan nan agung". Gelar ini menyebabkan Bao Sheng Da Di populer dengan sebuatan Da Dao Gong (Toa To Kong - Hokkian) yang berarti "paduka jalan nan agung". Kaisar Song Ning Zong memberikan gelar kehormatan Zhong Xian Hou (Tiong Hian Hoo - Hokkian) yang berarti „Pangeran teladan kesetiaan". Kaisar Dinasti Ming yang pertama Ming Tai Zu memberikan gelar Hao Tian Yu Shi Yi Ling Zhen Jun (Ho Thian Gi Su It Leng Cin Kun - Hokkian) yang berarti Dewa sejati ahli pengobatan dan menteri pencatat sejarah *#
dikutip dari buku Dewa Dewi Kelenteng hal 235 - 236.
.
Pendapat yang satu lagi pengatakan bahwa Bao Sheng Da Di atau Wu
Zhen-ren (Go Cin-jin-Hokkian) adalah Wu Meng yang hidup pada jaman Dinasti Jin (265 - 420 M), penduduk asli dari Henan. Wu Meng (Go Beng-Hokkian) sejak kecil terkenal karena baktinya kepada orang tua. Setelah dewasa ia berkelana dan melakukan pengobatan kepada penduduk yang tidak mampu dan mengusir roh jahat dan iblis pengganggu ketentraman dengan ilmu yang dimilikinya. Akhir-akhir ini ia dipanggil dengan nama Wu Zhen-jun (Go Cin-kun - Hokkian) atau Wu-si dewa sejati. Kalau ditinjau dan sudut sejarah, nama Wu Meng memang lebih terkenal dari pada Wu Ben, sebab Wu Ben meskipun mempunyai reputasi sebagai tabib yang hebat, tapi dia hanya dipuja di sekitar propinsi Fujian saja. Tapi kalau kita meninjau dari tempat asalnya, Wu Ben lebih mendekati kenyataan, karena di propinsi Fujian (Hokkian) Wu Ben dipuja sebagai Bao Sheng Da Di. Kuil Bao Sheng Da Di di propinsi ini yang terkenal atau terbesar terdapat di dusun Bai Jiao. kabupaten Tong An, tempat Wu Ben berasal. Di kuil itu terdapat papan yang dihadiahkan oleh Kaisar Yong Le dari Dinasti Ming.
Kisah - kisah dikalangan rakyat tentang kehebatan Wu Ben memang banyak beredar, terutama di propinsi Fujian dan sekitarnya. Diceritakan pada suatu hari dalam perkelanaannya menjalankan kebajikan, sampailah ia disebuah jalan pegunungan. Ia beijumpa dengan 4 orang menggotong sebuah peti jenasah. Peti jenasah itu sederhana sekali dan terbuat dari papan kayu yang sudah lapuk, menandakan bahwa keluarga si mati adalah keluarga yang melarat. Darah nampak mengalir dari celab - celah peti mati itu, menandakan bahwa orang dalam peti itu belum lama meninggal. Wu Ben melihat itu lalu mengerutkan keningnya, ia yakin bahwa yang ada di dalam peti mati itu pasti belum mati. Ia meminta para penggotong supaya berhenti dan bersedia membuka tutup peti itu. Seorang wanita nampaknya tergeletak di dalamnya dan usianya sekitar 30 tahun. Sekilas Wu Ben iahu, bahwa ia baru saja melahirkan dan mengalami pendarahan. Wu Ben minta bantuan para pelayat agar wanita itu diangkat keluar dari peti dan dibaringkan di bawah sebuah pohon yang rindang di tepi jalan. Setelah diperiksa seksama,Wu Ben tahu bahwa wanita tersebut masih dapat ditolong. Setelah dirawat dengan seksama akhirnya beberapa hari kemudian perempuan yang sudah di anggap mati itu, menjadi sehat kembali. Kejadian ini tersebar dari mulut kemulut dan meluas kesegenap pelosok negeri. Semua mengatakan bahwaWu Ben dapat menghidupkan orang mati. Ketenarannya sampai di telinga Kaisar Ren Zong di ibukota masa itu, Kai-feng. Song Ren Zong pada waktu itu resah karena permaisurinya sedang sakit dan sudah banyak tabib tersohoryang didatangkan, tetapi penyakit tak kunjung sembuh. Tanpa memperdulikan jarak jauh, Wu Ben datang ai istana untuk memenuhi panggilan kaisar. Karena kebiasaan pada waktu itu, yang melarang orang awam menyentuh tubuh kaisar maupun keluarganya, maka Wu Ben memeriksa denyut nadi permaisuri dengan perantaraan seutas tali sutera yang diikat pada pergelangan tangannya. Setelah yakin akan penyakit apa yang diderita sang permaisuri, Wu Ben menulis resep dokter. Berkat obat itulah, tak lama kemudian sang permaisuri sembuh kembali. Ketika kaisar menanyakan pada Wu Ben hadiah apa yang diinginkannya, ia menginginkan jubah kebesaran yang pernah dipakai oleh ayahda kaisar. Sebagai orang yang bijaksana Song Ren Zong mengabulkan permintaan Wu Ben memakai baju kebesaran ayahdanya. Kaisar Ren Zong lalu berlutut. Wu Ben buru-buru mencegah dan menolak kehormatan itu. Sejak itulah Wu Ben dikenal sebaga Bao Sheng Da Di atau Maharaja Pelindung Kehidupan. Kisah yang beredar dari mulut ke mulut sampai sekarang ini kami dengar dari penuturan sesepuh Kelenteng Tay Kak Sie, Semarang, di mana Bao Sheng Da Di dipuja.
Belakangan dipuja pula Wu Meng dan Wu Ben bersama-sama, Wu Ben sebagai Bao Sheng Da Di sedangkan Wu Meng sebagai Shen Lie Zhen Ren (Sin Liat Cin Jin - Hokkian).
Bao Sheng Da Di dipuja tidak hanya sebagai dewa pengobatan, tetapi juga dianggap sebagai dewa pelindung masyarakat yang berasal dari Quan-zhou.
Bersama dengan menyebamya imigran dari Quan-zhouitu, pemujaan terhadap Bao Sheng Da Di tersebar ke Taiwan, lalu ke Asia Tenggara. Di Taiwan,karena imigran dari Quanzhou ini banyak jumlahnya, maka kelenteng yang memuja Bao Sheng Da Di atau Da Dao Gong ini terdapat di mana-mana.Yang tertua adalah yang didirikan pada jaman Dinasti Ming, pada masa pemerintahan Kaisar Wan Li yaitu Kai Shan Gong (Khai San Kiong -Hokkian). Masih ada juga yang lebih besar yaitu Xing Ji Gong, Yuan He Gong, Liang Huang Gong, Fu Long Gong, Guang Ji Gong, Miao Shou Gong dan lain-lain. Di Singapura pemujaan Bao Sheng Da Di terdapat di Kelenteng Han Fu Gong (Thian Hok Keng - Hokkian) di Telok-ayer Street Di Kelenteng Tay Ka Sie, Semarang, baru dimulai pada tahun 1860 atas prakarsa seorang pedagang besar pada waktu itu, Gan Kang Siu, yang mendatangkan patung Da Dao Gong dari Tiongkok,
dikutip dari buku Dewa Dewi Kelenteng hal 238 - 239.
Omithofo...

Komentar
Posting Komentar