Arti Doa versi Buddha
Arti Doa
(Menurut Buddhisme)
Ketika seseorang berdoa, maka sebenarnya ia sedang melakukan proses “sugesti” dan “afirmasi” bagi dirinya sendiri.
Dan kemudian ia mendapatkan kelegaan serta keteguhan dari “doa” yang ia ucapkan pada suatu sosok “Yang-Maha-Segala”.
Kelegaan dan keteguhan itu sesungguhnya hanyalah efek psikologis semata dari hasil “sugesti” dan “afirmasi” yang ia tanamkan dalam “jiwa” melalui untaian kata-kata indah yang terangkum dalam doa tersebut, bukan berasal dari “sentuhan-tangan-Yang-Maha-Kuasa” .
Inilah efek yang diciptakan oleh pikiran melalui “iman” dan “devosi” umumnya umat manusia.
Dalam satu kesempatan, Sang Buddha bersabda,
“Tumhehi kiccam atappam akkhataro Tathagata”,
yang artinya,
“ Usaha harus dikerjakan oleh dirimu sendiri. Para Tathagata hanyalah Guru.”
(Dhammapada v.276).
Sang Buddha tidak pernah mengajarkan para siswa-Nya untuk berdoa dan berserah diri pada “Maha-Dewa” siapapun namanya, termasuk kepada Sang Buddha sendiri.
Kebalikan dari ajaran “berserah-diri” tersebut, Sang Buddha justru mengajarkan para siswa-Nya untuk berusaha, berdaya-upaya dengan kemampuan dirinya sendiri, dengan segenap-tenaga, hingga meraih kesuksesan.
Untuk itulah, Sang Buddha memberikan rumusan bagi para siswa-Nya supaya berhasil dengan sukses meraih apa yang dicita-citakan, yang disebut dengan “Panca-Bala” :
“Pañcimāni, bhikkhave, balāni. Katamāni pañca? Saddhābalaŋ, vīriyabalaŋ, satibalaŋ, samādhibalaŋ, paññābalaŋ. “
Inilah o para Bhikkhu, lima kekuatan.
Apakah lima kekuatan itu?
~Kekuatan keyakinan (#Saddhābalaŋ),
~Kekuatan ketekunan/ semangat (#vīriyabalaŋ),
~Kekuatan perhatian (#satibalaŋ),
~Kekuatan samādhi/konsentrasi (#samādhibalaŋ),
~Kekuatan Kebijaksanaan (#paññābalaŋ).
Inilah kunci bagi siapapun yang ingin meraih kesuksesan mencapai cita-citanya.
Di dalam berusaha mencapai cita-cita, alih-alih menyibukkan diri dengan uncaran doa-doa berjam- jam, kita hendaknya selalu penuh keyakinan, ketekunan/semangat, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan, dalam berusaha dan berdaya-upaya meraih cita-cita, hingga apa yang kita cita-citakan itu berhasil.
Pada suatu kesempatan, Sang Buddha bersabda pada hartawan Anathapindika:
Oh, perumah tangga, di dunia ini ada lima hal yang diinginkan, menarik dan menyenangkan.
Apakah kelima hal itu?
Tidak lain adalah
~usia panjang,
~kecantikan,
~kebahagiaan,
~kemasyhuran dan
~kelahiran kembali di alam-alam Surga.
Akan tetapi, oh, perumah tangga, Saya tidak pernah mengajarkan bahwa lima hal tersebut dapat diperoleh dengan doa (#acayana) ataupun dengan kaul/nadar (#patthana).
Jika seandainya dapat diperoleh dengan doa atau kaul/nadar, [maka] siapakah yang tidak akan melakukannya?
Bagi seorang siswa mulia, oh, perumah tangga, yang mendambakan
~usia panjang,
~kecantikan,
~kebahagiaan,
~kemasyhuran, dan
~kelahiran kembali di alam-alam Surga;
sangatlah tidak tepat apabila ia berdoa atau merasa senang dalam usaha seperti itu.
Sebaliknya, ia selayaknya menempuh jalan kehidupan yang mengakibatkan
~usia panjang,
~kecantikan,
~kebahagiaan,
~kemasyhuran dan
~kelahiran kembali di alam-alam Surga.
Hanya dengan berbuat demikianlah ia dapat memperoleh apa yang diinginkan, menarik dan menyenangkan.
https://ratnakumara.wordpress.com/2009/06/28/arti-doa-menurut-buddhisme/
(#Edited).
Omithofo...
(Menurut Buddhisme)
Ketika seseorang berdoa, maka sebenarnya ia sedang melakukan proses “sugesti” dan “afirmasi” bagi dirinya sendiri.
Dan kemudian ia mendapatkan kelegaan serta keteguhan dari “doa” yang ia ucapkan pada suatu sosok “Yang-Maha-Segala”.
Kelegaan dan keteguhan itu sesungguhnya hanyalah efek psikologis semata dari hasil “sugesti” dan “afirmasi” yang ia tanamkan dalam “jiwa” melalui untaian kata-kata indah yang terangkum dalam doa tersebut, bukan berasal dari “sentuhan-tangan-Yang-Maha-Kuasa” .
Inilah efek yang diciptakan oleh pikiran melalui “iman” dan “devosi” umumnya umat manusia.
Dalam satu kesempatan, Sang Buddha bersabda,
“Tumhehi kiccam atappam akkhataro Tathagata”,
yang artinya,
“ Usaha harus dikerjakan oleh dirimu sendiri. Para Tathagata hanyalah Guru.”
(Dhammapada v.276).
Sang Buddha tidak pernah mengajarkan para siswa-Nya untuk berdoa dan berserah diri pada “Maha-Dewa” siapapun namanya, termasuk kepada Sang Buddha sendiri.
Kebalikan dari ajaran “berserah-diri” tersebut, Sang Buddha justru mengajarkan para siswa-Nya untuk berusaha, berdaya-upaya dengan kemampuan dirinya sendiri, dengan segenap-tenaga, hingga meraih kesuksesan.
Untuk itulah, Sang Buddha memberikan rumusan bagi para siswa-Nya supaya berhasil dengan sukses meraih apa yang dicita-citakan, yang disebut dengan “Panca-Bala” :
“Pañcimāni, bhikkhave, balāni. Katamāni pañca? Saddhābalaŋ, vīriyabalaŋ, satibalaŋ, samādhibalaŋ, paññābalaŋ. “
Inilah o para Bhikkhu, lima kekuatan.
Apakah lima kekuatan itu?
~Kekuatan keyakinan (#Saddhābalaŋ),
~Kekuatan ketekunan/ semangat (#vīriyabalaŋ),
~Kekuatan perhatian (#satibalaŋ),
~Kekuatan samādhi/konsentrasi (#samādhibalaŋ),
~Kekuatan Kebijaksanaan (#paññābalaŋ).
Inilah kunci bagi siapapun yang ingin meraih kesuksesan mencapai cita-citanya.
Di dalam berusaha mencapai cita-cita, alih-alih menyibukkan diri dengan uncaran doa-doa berjam- jam, kita hendaknya selalu penuh keyakinan, ketekunan/semangat, perhatian, konsentrasi, dan kebijaksanaan, dalam berusaha dan berdaya-upaya meraih cita-cita, hingga apa yang kita cita-citakan itu berhasil.
Pada suatu kesempatan, Sang Buddha bersabda pada hartawan Anathapindika:
Oh, perumah tangga, di dunia ini ada lima hal yang diinginkan, menarik dan menyenangkan.
Apakah kelima hal itu?
Tidak lain adalah
~usia panjang,
~kecantikan,
~kebahagiaan,
~kemasyhuran dan
~kelahiran kembali di alam-alam Surga.
Akan tetapi, oh, perumah tangga, Saya tidak pernah mengajarkan bahwa lima hal tersebut dapat diperoleh dengan doa (#acayana) ataupun dengan kaul/nadar (#patthana).
Jika seandainya dapat diperoleh dengan doa atau kaul/nadar, [maka] siapakah yang tidak akan melakukannya?
Bagi seorang siswa mulia, oh, perumah tangga, yang mendambakan
~usia panjang,
~kecantikan,
~kebahagiaan,
~kemasyhuran, dan
~kelahiran kembali di alam-alam Surga;
sangatlah tidak tepat apabila ia berdoa atau merasa senang dalam usaha seperti itu.
Sebaliknya, ia selayaknya menempuh jalan kehidupan yang mengakibatkan
~usia panjang,
~kecantikan,
~kebahagiaan,
~kemasyhuran dan
~kelahiran kembali di alam-alam Surga.
Hanya dengan berbuat demikianlah ia dapat memperoleh apa yang diinginkan, menarik dan menyenangkan.
https://ratnakumara.wordpress.com/2009/06/28/arti-doa-menurut-buddhisme/
(#Edited).
Omithofo...

Komentar
Posting Komentar